Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Banjir yang Mengerikan itu Disebabkan oleh Allah? Renungan atas Kekerasan dan Kasih Allah

“Banjir” dalam judul artikel ini hanyalah wakil dari bencana alam dan kecelakaan-kecelakaan atau musibah-musibah yang dialami bangsa kita yang mendatangkan penderitaan yang begitu dalam. Penderitaan yang menyayat hati, yang membuat air mata menetes di mana-mana.

Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan kecuali diam atau menangis, meneriakkan jeritan hati yang paling dalam.

Di manakah Allah? Apakah Allah tidak peduli? Atau, Allah itu begitu impoten (tidak berdaya) sehingga tidak bisa menyentuh penderitaan saudara-saudara kita?

Atau, jangan-jangan, semua ini disebabkan oleh Allah sendiri? Apakah Allah melanggengkan kekerasan untuk mencapai tujuanNya? Atau tegasnya, apakah Allah memakai cara kekerasan untuk membasmi kekerasan manusiawi?

Artikel ini akan merenungkan pertanyaan ini. Untuk memulainya, kita akan meneliti masalah kekerasan sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab dan sejarah tradisi Kristen.

 

Alkitab yang Ambigu

 

Entah kita sadari atau tidak, dalam praktiknya, kebanyakan umat Kristen memilih beberapa bagian/perspektif Alkitab sebagai penyataan kehendak Allah dan dengan diam-diam menolak yang lain. Ada “kanon di dalam kanon”. Mengapa “diam-diam”? Karena takut dianggap sesat. Orang yang dengan tegas menolak bagian Alkitab yang ini atau yang itu (seperti Marcion)  langsung dianggap sesat karena tidak cocok dengan doktrin “kesatuan dan ketidakbersalahan Alkitab”.

Seandainya ingin konsisten menerima semua bagian/perspektif Alkitab, maka yang dilakukan umat Kristen adalah memakai strategi penafsiran (interpretasi) tertentu: bagian yang masuk akal ditafsirkan secara harfiah, sedangkan bagian yang tidak masuk akal ditafsirkan secara alegoris (kiasan/perlambangan) bergaya kaum gnostik, secara tipologis (tipe-contoh) atau secara kristosentris (Kristus dijadikan pusat-standar untuk memahami seluruh isi Alkitab). Atau yang lebih pengecut lagi, umat Kristen pura-pura tidak tahu kalau ada bagian Alkitab yang tidak masuk akal, seperti kekerasan Allah yang begitu bernafsu membunuh suatu komunitas bahkan sampai anak-anaknya (baca: “pembasmian etnis”).

Siapa yang terbiasa membaca buku model “renungan harian”, mendengar kotbah pada hari minggu atau kebaktian-kebaktian di rumah, maka ia akan mengetahui bahwa bagian-bagian Alkitab yang dibahas dari tahun ke tahun ya bagian-bagian yang  itu-itu juga. Atau, kalau ada “santapan harian” yang mengajak kita untuk membaca seluruh bagian Alkitab, maka akan ada strategi penafsiran yang dipakai atas bagian yang bertentangan sehingga apa yang dinyatakan dalam Alkitab menjadi harmonis.

Bukan hanya buku model “renungan harian”, buku-buku tafsir yang tebal-tebal, buku-buku dogmatika, doktrin (ajaran) gereja, dan pengakuan iman konsili-gereja juga memilih beberapa bagian Alkitab atau menafsirkan bagian-bagian yang bertentangan secara alegoris dan tipologis.

Mengapa gereja mesti malu dan takut mengakui kenyataan di atas kalau memang pada praktiknya menolak bagian Alkitab yang lain yang dianggapnya tidak masuk akal? Apakah menolak bagian Alkitab yang melanggengkan kekerasan itu buruk?

Leo Lefebure, dalam bukunya Penyataan Allah, Agama dan Kekerasan, menyatakan bahwa perspektif Alkitab dan tradisi Kristen mengenai kekerasan bersifat ambigu (bermakna ganda). Di satu pihak, dengan jelas diceritakan kekerasan Allah, di mana Tuhan memerintahkan untuk membunuh semua musuh-musuh Israel, bahkan sampai anak-anak dan bayi pun mesti dibunuh (Ulangan 2:34 dan 3:6, I Sameuel 15:3 dan sejenisnya). Bayangkan, bagaimana perasaan Anda jika bayi tercinta Anda dibunuh dengan kejam oleh orang lain? Sakit? Tidak Terima? Dendam? Tapi, jika Allah yang melakukannya, apakah Anda menerima saja? Di sini, Allah tampak sebagai penguasa kejam, Allah yang ganas (Deus Saevus). Ideologi peperangan dengan jelas diceritakan dalam Ulangan 20:10-18). Tradisi priestly (Bilangan 31), tradisi puitis (1 Samuel 17:1-54), dan tradisi-tradisi lain dalam Alkitab menyatakan dengan jelas atas dukungan ideologi kekerasan-peperangan. Nahum mewakili tradisi kekerasan Allah (Nahum 3:2-3).

Tetapi, di lain pihak, Alkitab juga dengan jelas mengungkapkan ketidakkerasan Allah dan penderitaan Allah. Di sini, kitab Deutero Yesaya (Yesaya 40-55) dan Yunus mewakili tradisi penolakan terhadap kekerasan dan tradisi penderitaan Allah. Di dalam kehidupan Yesus, jalan penolakan terhadap kekerasan dan jalan penderitaan begitu diungkapkan. Yesus bukan hanya penyataan Allah, tetapai penyataan kasih Allah yang sehati-sepenanggungan dengan mereka yang menderita.  Yesus mematahkan lingkaran kekerasan dengan jalan penolakan terhadap kekerasan. Di kayu salib, nyata bagaimana Allah menderita kekerasan manusia namun tidak melawan kekerasan dengan kekerasan. Di sini, kita mengenal Allah sebagai Allah Pengasih-Penganugerah (Deus Gratiosus).

Dalam sejarah kekristenan, ketika gereja masih menjadi umat kecil yang dianiaya dan ditentang negara, maka bagian yang diambil dari Alkitab adalah bagian ketidakkerasan dan penderitaan Allah. Tetapi, ketiga gereja menjadi besar dan dibela oleh negara (sejak kekaisaran Konstantinus Agung tahun 313), maka bagian yang diambil dari Alkitab adalah bagian kekerasan Allah; di sini, terjadi pembenaran akan kekerasan dan perang suci.

Buku Kemenangan Akhir, karya Ellen G. White, menggambarkan begitu jelas kekejaman dan kelaliman Paus yang begitu mengerikan. Abad pertengahan menjadi zaman kegelapan rohani; Alkitab hampir tidak dikenal lagi bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh imam-imam (hlm. 55). Dogma kepausan dan doktrin “penjualansurat penghapusan dosa” (bisa selamat karena jasa usaha manusia sendiri) dipegang tanpa bisa diganggu gugat. Paus Roma berusaha menumpas-menyiksa-membunuh segala sesuatu yang melawan kekuasaannya, apakah itu orang atau apakah itu tulisan.  Mereka yang rindu ingin membaca Alkitab, seperti orang-orang Waldensia (yang membaca Alkitab dengan doa dan air mata), harus menghadapi ancaman bahaya nyawanya hilang. Ideologi peperangan dan pembunuhan kejam disahkan dengan mengambil bagian-bagian Alkitab yang mendukung ideologi kekerasan.

Sesungguhnya, perang yang kejam di manapun juga tidak layak di sebut perang suci. Perang itu selalu kotor. Membunuh itu suci? Hmmm… Jika kita mengi-ya-kan pemahaman ini, maka konsekuensi logisnya adalah umat Kristen menjadi pembunuh-pembunuh ulung yang merasa menjadi prajurit Allah dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bukankah bagian Alkitab yang lain, Ulangan 5:17, Tuhan memerintahkan untuk “jangan membunuh”?

Melawan dogma kepausan yang kejam, dipicu oleh bibit-bibit reformasi dalam diri Waldensia yang bertumbuh subur dalam tokoh-tokoh reformasi seperti Luther dan Calvin, reformasi mengajak untuk kembali ke Alkitab dan menekankan anugerah keselamatan dari Allah. Salib penderitaan Kristus adalah wujud anugerah Allah Di sini, yang ditonjolkan bukanlah Allah Penguasa yang keras dan kejam, tetapai Allah Pengasih-Penganugerah yang di dalam salib menolak jalan kekekerasan.

Sayangnya, apa yang baik yang telah dikemukakan oleh tokoh-tokoh reformasi ini semakin hari semakin hilang kekuatannya. E.G. White mengatakan bahwa “prinsip pembenaran Luther sudah diabaikan” (hlm. 236) dan Alkitab tidak diterima sepenuhnya. Ia mengatakan bahwa kaum Protestan mengikuti jejak kaum Romanisme. “Sementara gereja kepausan menahan Alkitab dari orang banyak, gereja-gereja Protestan menyatakan bahwa sebagian dari Firman Kudus tak dapat dipahami, yaitu bagian Alkitab yang menyatakan kebenaran yang secara khusus menunjuk kepada zaman kita” (hlm. 318). Yang dimaksud oleh White atas “bagian Alkitab” itu adalah nubuatan tentang kedatangan Kristus yang kedua kali (dan juga tentang Hari Sabat). Karena topik ini jauh dari topik pembahasan kita kali ini, untuk sementara kita tidak menyentuhnya. Sekalipun demikian, apa yang dikatakan White perlu dipertimbangkan, karena seperti yang kita dengar dalam kotbah-kotbah hari minggu di gereja, kita, dari Lutheran dan Calvinis, sangat langka mengumandangkan nubuatan ini. Jika dibicarakan pun, itu sifatnya hanya tambahan (“pinggiran”). Tambah lagi, bukankah para penjajah yang membuat bangsa kita bodoh, miskin dan tertinggal saat ini adalah orang-orang Kristen Protestan?

Kita perlu bertanya kepada White, bagaimana warisan Alkitab yang ambigu terhadap kekerasan ini. Bukankah Paus Roma yang kejam itu juga berdasar pada ideologi peperangan-pembunuhan sebagaimana dinyatakan Alkitab? Apakah bagian yang menyatakan kekerasan Allah itu bisa diterima? [Karena White sudah meninggal dunia, mungkin para pengikutnya bisa mengupas hal ini.]

Untuk menggumuli masalah kekerasan Allah ini, baiklah kita mendengar apa yang dikatakan oleh E.G. Singgih (mantan dosen penulis di UKDW), dalam tulisannya tentang “Mengapa Tuham Mengirim Air Bah ke Bumi? Memahami Kekerasan Ilahi di dalam Perjanjian Lama”.

Singgih memulai penalarannya dengan membahas pemikiran Zaehner. Zaehner mempelajari pemikiran atau spiritualitas Timur. Yang ditekankan dalam spiritualitas Timur adalah dimensi “estetis”, dalam arti “kesatuan atau keseluruhan dari realitas”. Dari perspektif ini, ditemukan relativitas dari apa yang baik dan yang jahat. Dengan tafsiran yang ekstrim, kita tidak perlu lagi membedakan antara membunuh dan dibunuh. Sebagai contoh, Charles Manson dan kawan-kawannya bisa membunuh dengan demikian kejamnya dan dengan demikian tenangnya.

Melihat relativitas Timur yang membahayakan ini, Zaehner mengusulkan agar orang-orang Barat tetap setia pada Alkitab, terutama penggambarannya mengenai Allah. Dalam Alkitab, tepatnya: dalam Perjanjian Lama, kita mendapat gambaran Allah yang sangat Dahsyat dan kejam, Allah yang sewenang-wenang, Deus Saevus (Baca: Allah yang ganas). Ide “Allah yang ganas” ini, bagi Zaehner adalah ide yang baik, karena ide ini menuntun hidup manusia pada jalan yang benar dengan mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Justru kalau kita mengakui Allah itu ganas, maka keganasan itu akan lenyap. Tanpa keberatan, Singgih menyetujui bahwa gambaran Allah yang ganas ini tidak perlu kita kabur-kaburkan, sebab itulah ciri khas dari penyataan (revelation).

Bertolak dari ide Deus Saevus, Singgih menelusuri cerita Alkitab tentang “Air Bah” (Kejadian 6:1-9:29); cerita tentang banjir luar biasa dahsyat berpuluh-puluh kali lipat lebih dahsyat dari banjir Tsunami di Aceh dan bagianAsia lainnya. Mengapa demikian? Karena, banjir besar itu “menutupi gunung-gunung tinggi” (Kejadian7:19-20). Banjir yang sangat mengerikan, dan untuk mengimajinasikannya saja, saya jadi ngeri. Apalagi membayangkan begitu banyak manusia yang menjadi mayat karena banjir tersebut. [saya mesti menarik nafas dulu untuk melanjutkan tulisan ini! Tidak kuat saya membayangkan jika yang menjadi mayat itu adalah orang-orang yang saya cintai]. Sadis… sadis… sadis…

Kok Allah begitu sadis terhadap manusia? Kejadian 6 mengisahkan bahwa yang dimaksud dengan manusia di sini adalah yang memiliki “kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (ayat 5). Singgih mengartikan ayat ini sebagai berikut: bukan hanya perbuatan manusia saja yang jahat, tetapi kecenderungannya juga sudah jahat! Di sini, manusia adalah manusia yang jahat luar-dalam yang menghasilkan kekerasan saja.

Kalau kita tengok perjalanan sejarah manusia, siapakah model manusia jahat luar-dalam ini? Mungkin, kita bisa mengambil contoh, Hitler. Tetapi, dari perjalanan ribuan tahun ini, bukankah manusia model Hitler itu tidak banyak? Karena, kalau sampai ada 100 orang seperti Hitler, maka bumi ini mungkin sudah tidak ada.

Jadi, manusia jahat luar-dalam yang dimaksud Alkitab hanyalah model bagi manusia yang begitu ekstrim sadis luar biasa. Nah, manusia-manusia ini disebut sebagai raksasa-raksasa, makhluk aneh yang “salah kedaden” (kata orang Jawa). Jelas, bahwa ini bukanlah manusia yang dicipta menurut “rupa dan gambar” Allah, tetapi manusia hasil keinginan makhluk-makhluk ilahi (terjemahan Alkitab BIS) dengan gadis-gadis cantik. Manusia bukan ciptaan Allah inilah yang ingin dimusnahkan oleh Allah. Banjir besar yang sangat sadis ini dikirim oleh Allah untuk memusnahkan manusia ciptaan manusia-dan-makhluk ilahi.

Tetapi, Anda, saya, saudara-saudara kita di Aceh dan wilayah JaBoDeTaBek yang menderita karena banjir adalah ciptaan Allah. Kita jelas-jelas secara faktual bukanlah manusia aneh “salah kedaden” model Hitler. Oleh karena itu, tidak mungkin banjir yang kita alami selama ini yang mendatangkan penderitaan yang menyayat hati adalah perbuatan Allah.

Singgih tidak menyadari hal tersebut karena tulisannya dibuat pada tahun 1995. Tetapi, dengan realitas penderitaan akibat banjir yang kita alami ini, sudah selayaknya, Singgih menafsir ulang kisah “Air Bah” ini, dan dengan kritis mempertanyakan ide Deus Saveus.

Tetapi, untunglah, Singgih menafsir kisar Air Bah hingga pasal 9 dari kitab Kejadian. Nuh bukanlah makhluk aneh yang  “salah kedaden”. Ia adalah tsadiq dan tamin; seorang yang benar dan tidak bercela. Ia adalah manusia ciptaan Allah, yang menyatakan “gambar dan rupa” Allah. Pasal 8-9, digambarkan Allah yang membuat perjanjian dengan Nuh. Inilah gambaran Allah yang memulihkan, yang memberi anugerah kepada umat manusia. Dia adalah Deus Gratiosus.

Karena ide Allah Penganugerah  ini berlaku secara universal, maka ide ini dapat kita terima. Tetapi, ide Allah Ganas Kejam karena berlaku eksklusif terhadap manusia aneh “salah kedaden”, ini tidak perlu kita terima. Pada titik ini, benar apa yang dikatakan oleh Ludwig Feuerbach bahwa allah adalah ciptaan hasil proyeksi angan-angan manusia saja. Allah Haus-Darah adalah hasil proyeksi manusia saja. Ini ditolak dan dibuang saja.

Jika hal itu dapat kita lakukan pada kisah “Air Bah”, apakah itu juga dapat kita terapkan pada kisah-kisah sadis yang lain yang berserakan di dalam bagian-bagian Alkitab yang lain?

Penulis, secara praksis, tidak bisa menerima ide Allah Ganas Kejam. Untuk mengetahui apa yang baik dan yang jahat, kita tidak perlu berangkat dari ide ini. Dalam ide Allah Penganugerah pun, kita bisa mengetahui apa yang baik dan yang jahat. Dalam hidup nyata ini, ide Allah Ganas Kejam tidaklah bermanfaat sama sekali. Justru, ide itu hanyalah melanggengkan kekerasan dan pembunuhan-pembunuhan keji yang melanggar etika manusia universal.

Sekalipun Allah memerintahkan saya untuk melakukan “pembasmian etnis” (misalnya terhadap orang Jepang dan Belanda yang ada diIndonesiakarena mereka telah menjajah nenek moyang kita dengan kejam), saya tetap tidak mau.

Bisa saja terjadi, Setan menipu kita dengan pura-pura datang kepada kita sebagai Allah dan menyuruh kita untuk membunuh saudara-saudara kita. Kita mesti peka akan strategi setan ini.

Dengan demikian, apakah itu berarti saya menolak sebagian isi Alkitab? Secara praksis, dengan tegas, saya mengatakan: “YA”. Saya menolak pembunuhan atas bayi dengan alasan sesuci apapun.

Tetapi, secara teoretis-eskatologis, saya bisa menerimanya. Apa maksudnya? Maksud saya, kalau hanya saya jadikan sebuah teori, itu mungkin saja, tetapi pembenarannya (apalagi pelaksanaannya) itu mesti menunggu jaman akhir dulu. Di dalam anugerah kasihNya, teori ini baru bisa saya lakukan jika saya sudah berhadapan “muka dengan muka” dengan Allah Bapa-Putra-Roh Kudus.

Akhir kata, penulis menegaskan, bahwa banjir besar yang membawa penderitaan begitu menyakitkan bukanlah perbuatan Allah. Jalan Allah bukanlah jalan kekerasan.

Dari perspektif Kristen, sangat tegas terungkapkan bahwa Allah itu Kasih. Kasih Allah inilah yang membuat Ia solider senasib-sepenanggungan terhadap kita, manusia yang menderita.

Allah adalah Allah yang menderita. Ia bukanlah Allah yang nongkrong-nongkrong saja di sorga tanpa peduli dengan penderitaan kita. Dan Yesus, Ia bukanlah hanya penyataan Allah, tetapi penyataan kasih-penderitaan Allah. Yesus menderita bersama dan untuk kita semua. Air mata kita adalah air mataNya juga.    View: 83

This post was written by

rudy phan – who has written posts on Berteologi.com.
Sejak pertobatan di kelas 1 SMA, saya sangat menyukai buku-buku teologi. Hal itu terus berlanjut di bangku kuliah. Perpustakaan adalah tempat paling favorit. Saya bisa datang lebih awal dan pulang tatkala perpustakaan mau tutup. Sekalipun di dahului oleh banyak masalah, akhirnya lulus juga dari fak teologi Universitas Kristen Duta Wacana thn 1999. Setelah lulus, saya tidak pernah mengirim ijazah ke gereja, sehingga saya sampai sekarang belum pernah melayani di gereja. Sekarang, sambil berbisnis, saya ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga, tulisan-tulisan yang ada di web ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Email  • Google + • Facebook  • Twitter

2 thoughts on “Banjir yang Mengerikan itu Disebabkan oleh Allah? Renungan atas Kekerasan dan Kasih Allah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>