Di sini, kita tidak membicarakan masalah rincian-rincian kecil. Tetapi, kita sedang membicarakan masalah gambaran besar; sebuah gambaran yang sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup ini. Betapa menentukannya gambaran besar ini, dapat dijelaskan dengan sebuah cerita sebagai berikut:
“Saya berada di dalam bangunan yang aneh dan tersesat masuk ke sebuah ruangan besar dan menjumpai perkumpulan rahasia yang militan sedang mengadakan pertemuan. Banyak anggotanya yang bersenjata, dan ketika mereka memaksa menjadi pengikutnya saya pikir adalah lebih bijaksana jika menerimanya tanpa banyak tanya. Saat itu sedang didiskusikan rencana untuk menggulingkan konstitusi dengan kekerasan. Situasinya sangat menegangkan. Bagi saya hal ini sangat mengkhawatirkan. Tiba-tiba saya sadar akan adanya cahaya redup di atas galeri di mana ada kamera yang sedang beroperasi, dan barulah saya sadar ternyata secara tak sengaja saya memasuki tempat pembuatan film. Pengetahuan ini mengubah kesadaran saya tentang situasi sekarang. Sebelumnya, saya menganggap peristiwa ini adalah “kehidupan yang nyata” dan saya perlu sangat berhati-hati. Tetapi kini saya melihatnya mengandung signifikansi yang sangat berbeda meskipun tidak ada perubahan dalam jalannya peristiwa… kesadaran saya tentang situasi yang lebih komprehensif telah mengubah pandangan saya tentang peristiwa itu… jika salah seorang “konspirator” tadi melihat kedatangan saya dan mengancam saya dengan todongan pistol, saya mungkin akan bertindak seolah-olah ketakutan meskipun sebenarnya tidak”. [John Hick (dalam Dimensi Kelima. Hick sendiri sedang membicarakan hal “keadaan disposisional”, hlm.52-52)]
Lihatlah bagaimana sebuah gambaran besar (“situasi yang lebih komprehensif”) dapat membawa cara pandang dan tindakan yang sangat berbeda. Memahami Allah dan Penyataan-Nya secara “komprehensif” bukanlah berkenaan dengan rincian-rincian kecil. Ini adalah masalah gambaran besar. Begitu gambaran besar kita berbeda, maka akan berbeda juga cara pandang dan cara kita menjalani hidup ini.
Saya akan mencoba membahas topik kita ini dalam perspektif paradigma postmodernisme, terutama dari tradisi dekonstruktif: F. Nietzsche dan J. Derrida. Dengan memahami pemikiran mereka, maka barulah kita dapat memahami lebih dalam teologi pembebasan Aloysius Pieris dan teologi-teologi kontekstual-transposisional lainnya.
Perspektif Paradigma Postmodernisme (non-fondasionalisme): Manusia Perantau Tanpa Jaminan (baca: fondasi)
Kritik Barat terhadap rasionalitasnya sendiri memberi banyak wawasan positif terhadap teolog-teolog Dunia Ketiga yang mengembangkan kontekstualisasi teologi. Kontekstualisasi teologi bukanlah anti Barat. Sikap anti-Barat, entah terhadap kebudayaan-agama maupun filsafat-teologinya, justru memperlambat pengembangan kontekstualisasi teologi. Mengapa? Karena, apa yang dari Barat itu banyak yang telah menjadi lapisan-dasar pola pikir Dunia Ketiga dan itu semua menjadi prapaham yang dapat menjadi titik berangkat pemahaman teologis yang baru. Mengingkari prapaham akan mempersulit pemahaman. Mengingkari Barat akan mempersulit pengembangan kontekstualisasi teologi Dunia Ketiga. Bahkan, teologi pembebasan yang dibelenggu epistemologi positivisme Marx tidak akan membawa pada pembebasan.
Semangat kritis Pencerahan tidak pernah hilang, bahkan itu jugalah yang melahirkan poscamodernisme sebagai kritik konstruktif terhadap modernisme. Filsafat dan teologi pascamodern tentulah memiliki semangat Pencerahan juga. Kritik atas rasionalitas modernisme, dari kubu dekonstruktif dapat dimulai dari Nietzsche (1844-1900), sedangkan dari kubu konstruktif dapat dimulai dari Edmund Husserl (1859-1938). Sekalipun dibedakan demikian, “dekonstruksi” Nietzsche itu beraroma konstruktif-hermeneutik juga. Pengutamaan bahasa metafor atas bahasa literal dan sikap antisistem Nietzsche mendorong kita untuk lebih mengenal pemikirannya.
Proyek modernisme berambisi membangun sistem ensiklopedis yang lengkap-final-universal. Proyek itu dijalankan oleh rasio yang berpusat pada subjek-tertutup. Nietzsche ingin menghentikan proyek tersebut beserta rasio yang mendasarinya. Metode penghentian sistem itu ia lakukan dengan metode antisistem, yaitu dengan aforisme.
Wacana aforistis, yang penuh dengan metafor, tampak liar, antara kalimat yang satu dan yang lain tidak perlu memiliki hubungan logis bahkan kalimat satu dengan yang lain bisa saling bertentangan. Kalimat yang terakhir tidak mau terikat dengan kalimat yang mendahuluinya. Dengan aforisme, Nietzsche memproklamasikan kedatangan nihilisme. Tidak ada nilai-nilai kekal-absolut yang bersumber dari moral, agama dan filsafat.
Dengan bahasa metaforisnya, ia mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati, membusuk dan dimakamkan”. Oleh karena itu, ia mengajak kita untuk bernyanyi lagu kematian Tuhan, “Requeiem aeternam deo” (Istirahat kekal bagi Tuhan). Jika Tuhan hidup, maka sistem juga ada, tetapi jika Tuhan mati maka mati jugalah sistem dunia ini. Sistem adalah penjara, oleh karena itu sistematisasi pemikiran dan pengalaman hanyalah suatu bentuk penjara.
Penjara sudah dibongkar. Kini, manusia bebas. Kebebasan ini ia gambarkan sebagai orang yang telah meninggalkan daratan dan naik kapal mungil untuk merantau-mengarungi samudera. Kapal mungil berlayar tanpa jaminan dan fondasi yang kokoh. Ia terombang-ambing dalam cengkraman yang menakutkan tetapi juga indah jika samudra sedang tenang-teduh. Pelayaran ini menggambarkan kegiatan filosofis. Kegiatan filosofis bukanlah membaca dunia seperti apa adanya, tetapi merupakan kegiatan penafsiran terhadap dunia. Penafsiran dilakukan tanpa dasar-daratan yang kokoh. Nihilismenya mengatakan, bahwa dibalik makna dan arti dari kegiatan filosofis itu, kita menemukan apa yang tak berarti dan bermakna.
“Kehendak untuk berkuasa” merupakan khaos yang tak mempunyai landasan apapun. Übermensch (Manusia Unggul Otonom) mencari makna pada dirinya sendiri tanpa meminta jaminan dari “dunia seberangsana”-nya tuhan.
Nihilisme Nietzsche dilanjutkan oleh Derrida.
Bagi Derrida, filsafat itu teks (rajutan tanda/bekas), yang bersifat tekstual. Filsafat bergerak mengalir dari jejak ke jejak, dari teks ke teks membangun jaringan makna. Seperti Nietzsche bicara tentang Dionysus yang absen, Derrida juga bicara tentang “teks yang absen atau hilang”. Dia mengatakan bahwa teks asli tulisan Allah tentang dunia tak pernah ada; yang ada tinggal bekas-bekasnya, dan malah semua itu hancur. Karena teks asli itu absen, yang ada adalah teks-teks yang jauh dari kepastian. Dengan demikian, teks atau tulisan memiliki kemungkinan yang tak terhingga untuk dibaca dan ditafsirkan. Dalam penafsiran tak terbatas ini, tak ada kebenaran yang mantap. Di sini Derrida setuju dengan mistikus Yahudi Rabbi Eliezer yang mengatakan bahwa jika seluruh manusia menulis dengan tinta sebanyak lautan di atas langit-bumi sebagai kertasnya maka semua itu tidak akan menghabisi Taurat yang dipelajarinya.
Dekonstruksi Derrida tidak merindukan kampung halaman “rumah sang Ada”-nya Heidegger, tetapi ia ingin merantau terus menerus. “Perantau” abadi tidak mempunyai kampung halaman tempat rumah-pusat-nya [baca: desentralisasi]; tetapi, ia berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Perantauan dari jejak ke jejak atau dari teks ke teks menunjukkan tidak adanya daratan atau rumah-pusat tempat berpijak yang tetap. Dalam “bekas” tidak ada lagi fondasi yang kokoh; dengan kata lain, tidak ada fondasi yang kuat dalam filsafat. [ide tentang “manusia perantau” dan gereja diaspora-perantau yang menggenangi tulisan-tulisan Y.B. Mangunwijaya dapat kita tempatkan dalam kerangka postmodernisme Nietzsche-Derrida. Desentralisasi Choan Seng Song dan Aloysius Pieris juga sejalan dengan pemikiran Derrida ini]
Dalam filsafat modern, termasuk dalam filsafat Husserl, tanda/bekas menunjukkan kehadiran sebuah objek. Tanda hadir karena kehadiran objek. Di sini, objek mendahului tanda dan menjadi fondasi yang kokoh. Menurut Derrida, prioritas urutan itu tidak benar. Derrida memutarbalikkan urutan tersebut. Yang benar adalah tanda/bekas selalu hadir mendahului objek. Tanda menunjukkan “kehadiran yang tertunda”. Kehadiran tidak mungkin ada tanpa bekas. Menghapus bekas berarti menghapus kehadiran itu sendiri. Oleh Derrida, tanda/bekas itu dilihat sebagai teks. Suatu teks tidak pernah terisolasi tetapi selalau berkaitan dengan teks-teks lain; dengan kata lain, ada intertekstualitas. Oleh sifat intertekstual ini, maka menerjemahkan berarti mengganti teks dengan teks lain. Terjemahan adalah transformasi. Setiap kenyataan adalah teks dan oleh karenanya segala sesuatu memiliki status tekstualnya. Makna sebuah teks tidak ditemukan pada dirinya, tetapi justru ditemukan dalam teks yang lain, demikian seterusnya. Kehadiran makna ditunda. Kebenaran bersifat intertekstual dan tidak pernah mencapai titik final. [dalam konteks pemikiran Derrida, “keunikan relasional” Knitter dapat dimengerti lebih dalam]
Selain memutarbalikkan prioritas urutan objek-tanda, Derrida juga memutarbalikkan prioritas urutan tuturan/ucapan-tulisan. Metafisika Barat, termasuk Heidegger, memprioritaskan tuturan di atas tulisan. Menurut Derrida, yang benar sebaliknya, yaitu prioritas tulisan di atas tuturan. Yang utama bukan logos tetapi gramma (huruf, inskripsi, tulisan), yaitu “tanda dari tanda” atau tanda yang menunjuk kepada tanda lain. Gramatologi Derrida adalah ilmu tentang tekstualitas. Ilmu baru ini membutuhkan konsep-konsep baru juga. Oleh karena itu, Derrida menciptakan trace (bekas) dan terutama différance. Khusus différance, Derrida menjelaskan bahwa itu bukanlah kata atau konsep. Différance adalah “syarat kemungkinan” atau “akar umum” timbulnya perbedaan dan makna sebuah konsep dan kata. Sebuah konsep atau kata seperti “différence (berbeda atau menunda) berada dalam kerangka ruang dan waktu, sedangkan Différance mengatasi ruang dan waktu, ia adalah proto-ruang-waktu atau “waktu-ruang” sebelum waktu-ruang yang kita alami. Oleh karena itu, différance memungkinkan gerakan acak melintasi waktu, entah dari masa lalu ke masa mendatang atau dari masa sekarang ke masa lalu dan masa mendatang. [“”Gerak acak” Derrida sejalan dengan “tarian rock n roll Allah”-nya Pieris]
Kalau sejarah itu jejak, maka différance adalah proto-jejak. “Syarat kemungkinan” ini sesungguhnya tidak “ada” (bukan suatu kehadiran), tetapi dibicarakan seperti “ada” sebagai textual instantiation yang mengatasi ruang dan waktu. Karena tidak “ada”, maka différance tidak dapat dijadikan objek yang bisa dikuasai-dimanipulasi manusia. Bagaimana mungkin, différance atau proto-jejak dapat dikuasai oleh manusia yang hanyalah sebuah jejak.
Secara filosofis, kita tidak bisa berbicara banyak tentang filsafat Derrida tersebut bagi pemahaman kita tentang Allah. Paling jauh, kita hanya dapat berbicara secara homolog: Différance itu bukanlah objek, demikian juga Allah bukanlah objek yang bisa kita peralat. Terhadap Allah yang Elusif (merucut seperti tatkala memegang ikan lele) dan Proto-Jejak, kita mesti berhati-hati tatkala berbicara tentang-Nya.
Non-fondasionalisme-nya Nietzsche dan Derrida sungguh membuka cakrawala berpikir yang baru: sebuah carkrawala bagi kebebasan berpikir. Banyak butir-butir pemikirannya, yang secara signifikan, sangat bermanfaat bagi teologi. Teolog-teolog yang sering di kelompokkan dalam kategori pluralisme memiliki jiwa perantauan ala “Nietzsche-Derrida”. Hanya saja, kita tidak dapat menerima nihilismenya, karena, sebagai orang beriman kita tetap memiliki pilihan yang sah secara rasiona-eksistensial untuk memaknai hidup ini bersama Allah, Sang Alfa dan Omega.
Jaringan teks Derrida ditandai keterbukaan, yang mengalir bergerak dari teks ke teks terus menerus. Sekalipun bukan pada tempatnya kita mengkritik Derrida, tetapi kita dapat mengatakan bahwa filsafat Derrida yang pada mulanya tampak seksi dan indah kini kebablasan jadi bugil dan cenderung porno. Rasanya kurang enak melihat orang bugil di jalan. Paling-paling dianggap orang gila. Tetapi, ya demikianlah, setiap orang yang mencoba mengatasi cara berpikir modern memang masuk dalam kategori “gila”.
The Mobile God: Allah yang Merantau ke Lembah Dasar Penderitaan Manusia
Aloysius Piries mengatakan bahwa Firman yang dikatakan Roh bukanlah sebuah penjelasan rasional tetapi suatu peristiwa (event). Di sini, sejarah dan pewahyuan bertemu. Sejarah bukan sekedar latar belakang untuk mengungkapkan Firman Allah. Sejarah bersifat pewahyuan. Sebagaimana dalam sejarah Israel dan jemaat perdana, Roh terus berbicara dalam konteks sejarah Asia, sejarah kaum miskin non-Kristen. Kita mendengar Firman Allah dari dalam konteks “agama yang membebaskan dan kemiskinan yang membebaskan” rakyat Asia. Choan Seng Song mengatakan bahwa Allah yang dinyatakan dalam Alkitab bukan hanya Allah Abrahan-Ishak-Yakub tetapi juga Allah Koresy dan Allah Nebukadnezar (dalam bukunya: Allah yang Turut Menderita). Allah mengasihi Koresy (Yesaya 48:14b) dan Nebukadnezar adalah hamba Allah (Yeremia 25:9).
Allah bukanlah Allah Israelsaja tetapi juga Allah bangsa-bangsa. Lebih lanjut, Song mengatakan bahwa “orang-orang Asyur dan Babelberhubungan dengan Allah tidaklah melalui mereka”. Mereka dapat berbicara langsung kepada Allah. Di sini tidak ada sentrisme, tidak ada teologi perwalian, tidak ada teologi garis lurus dan tidak ada keunikan yang terpisah-terasing. Semua adalah ciptaan Allah yang dikasihi Allah secara sama-rata dan semua berada dalam hubungan satu dengan yang lainnya. Anugerah Allah tidak memerlukan “dewan perwakilan”. Tidak perlu menjadi orang Yahudi untuk selamat. Bukankah ini yang ditekankan oleh rasul Paulus?
Menurut Song, teologi garis lurus adalah produk pola pikir modern gaya“menara babel”. Budaya modern ilmu pengetahuan dan teknologi adalah budaya garis lurus. Modernisme ingin membuat cerita-besar seperti ensiklopedi-ensiklopedi raksasa; membuat gedung-gedung pencakar langit dan menjelajah ke ruang angkasa. Tanpa garis lurus, semua itu akan hancur. Teologi garis lurus mengandalkan keunikan-pilihan-istimewa. Keunikan yang terpisah-terasing ini memandang yang lain sebagai musuh. Teologi sejarah deuteronomis sebagaimana diceritakan dalam kitab Yosua, Hakim-hakim, I-II Samuel dan I-II Raja-raja memaparkan dengan jelas kebencian-permusuhan-dan-kekerasan Israelkepada bangsa-bangsa lain. Di sini, konfrontasi berdarah dilihat baik-baik saja. I Samuel 15:3 mengatakan, “…bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu…” Bayi dibunuh? Itu “firman Tuhan semesta alam”? Saya menentang alasan sesuci apapun untuk membunuh bayi, sekalipun itu Tuhan semesta alam yang mengatakan. Saya berani berdebat sampai titik darah penghabisan untuk hal ini, bahkan kepada Tuhan. Oleh Song, Allah yang haus darah ini disebutnya sebagai “Allah yang bertegangan tinggi”. Orang berdosa yang dekat Allah akan kesetrum dan mati. Teologi “Allah yang bertegangan tinggi” ini tampaknya banyak dipegang oleh gereja-gereja kita saat ini, yang tidak mengijinkan orang berdosa, para pembunuh, pencuri dan pelacur untuk duduk makan bersama di perjamuan ekaristi.
Sejarah tidak pernah berhenti. “Langit dan bumi baru” bukanlah akhir sejarah, tetapi sebuah sejarah yang baru. Kedatangan Yesus membawa sejarah baru, bukan mengakhiri sejarah. Sejarah tidak berhenti dengan kedatangan Yesus. Perubahan sejarah bergerak mengikuti “tarian kosmis”. Dialektika energi tangensil dan energi radial membuat “tarian kosmis” ini memiliki ritme yang tidak bergerak lurus, tetapi berbelok-belok seperti orang sedang berselancar di laut. Jika selancar ini dilakukan oleh banyak orang, maka gerakan ini tidak hanya tampak berbelok-belok tetapi tampak sebagai tarian yang penuh gerak ke sana ke mari. Bagi Pieris, Allah sendiri menari di alam semesta ini.
Song setuju dengan Pieris. Ia mengatakan bahwa pewahyuan Allah juga tidak bergerak lurus dari Israelke jemaat Kristen perdana baru kemudian meluas ke bangsa-bangsa lain. Allah menari, bisa bergerak ke sana ke mari, melompat penuh dinamika dan mendatangkan kejutan-kejutan yang luar biasa. Ia menari dengan bebas. Allah bergerak ke segala arah: ke depan (sudah tentu), tetapi juga ke belakang, ke atas, dan juga ke bawah, ke dalam dan juga ke luar. Allah bebas merantau ke sana ke mari (“surfing dan browsing ke sana ke mari”). Ini berarti bahwa Ia bisa mewahyukan Diri dalam sejarah bangsa-bangsa tanpa harus bergerak lurus atau ditarik benang merah dari sejarah Israel. Itu berarti, Firman Allah dapat kita dengar dalam banyak agama tanpa harus dihubungkan dengan Yesus dari Nazareth. Song mengatakan bahwa “Allah berhubungan dengan penduduk dunia ini pada banyak pusat. Tidak ada satu pusat tunggal yang membuat pusat-pusat lain-lainnya menjadi tidak perlu. Sekalipun bisa jadi ada satu pusat (“website”) yang menonjol, itu tidak berarti pusat-pusat yang lain (“website-website yang lain”) dianggap tidak ada. Semua ada dalam jaringan (“internet”) kasih Allah. Inilah iman model internet yang banyak dipegang para teolog kontekstual pluralis Asia.
Mengejutkan Anda? Jika ya, berarti Anda sudah mulai memasuki dunia anugerah kasih Allah.
Song mengatakan bahwa “penyataan dan kejutan, keduanya berjalan bersama-sama”. Beberapa kejutan yang dinyatakan oleh Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam Kitab Suci umat Kristen adalah:
- Allah menjadi manusia (baca: “hamba yang menderita”). Allah merantau menjadi manusia. Ini adalah perubahan yang luar biasa, melampau kategori pemikiran manusia. (mengejutkan daya nalar semua manusia). Bagi saya (Rudy), “menjadi manusia” dipahami secara metaforis.
- Allah adalah Allah Pencipta dan Allah Bangsa-bangsa (mengejutkan mereka yang eksklusifis-sentrisme dan senang bermusuhan dengan ras-suku-agama lain)
- Keselamatan dianugerahkan oleh Allah dengan cuma-cuma, alias gratis. (mengejutkan mereka yang total berjiwa kapitalis dengan perhitungan untung-rugi-nya)
- Kebangkitan dan mukjizat-mukjizat (mengejutkan hukum alam dan memutuskan kesinambungan sejarah)
- Kristus yang Menderita (mengejutkan bagi mereka yang mengharapkan pembebasan berdasarkan perjuangan kekerasan)
- Kristus bergaul dan makan bersama dengan orang berdosa (mengejutkan para “orang suci”-fariseisme yang suka mengucilkan dan mengutuk)
Allah yang dinyatakan oleh Yesus Kristus adalah Allah yang menderita, yang berani merantau dari kilauan sorgawi ke kampung kumuh penderitaan manusia. Allah yang tidak mengucilkan orang berdosa, tetapi justru merangkul orang berdosa tersebut, bahkan mengajaknya makan bersama dengan Dia. Allah yang mau blusukan dan tlusuban dalam bak sampah masyarakat. Dia-lah the mobile God.
Jika Allah itu bergerak merantau kesana-kemari, maka doktrin gereja yang benar adalah doktrin yang mengikuti gerak Allah tersebut.
Masalahnya adalah gereja sudah membangun “menara Babel” doktrin yang lengkap-bergaya-ensiklopedia (modernisme). Doktrin gereja sudah menjadi gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dengan fondasi kokoh, dan tidak bisa bergerak. Gereja sudah merasa nyaman tinggal di dalamnya, sejuk di dalam ruang ber AC. Karena terlalu nyaman, gereja sudah tidak perduli lagi ke mana Allah akan merantau pergi. Padahal, Allah sedang merantau ke tetangga sebelah. Ia sedang makan bersama dengan mereka. Tetapi, gereja terus hidup dengan asumsi bahwa Allah selalu nongkrong di rumahnya saja. Akhirnya, di gereja, jemaat merasa tidak mendengar suara Allah, tidak ada lagi kejutan-kejutan yang mencerahkan. Yang didengar jemaat adalah suara monyet yang berisik saling berebutan kacang.
Allah di mana? Itu lho… Dia lagi pergi ke rumah tetangga. Ia sedang bercanda dengan tetangga sebelah. Makanya, main-main dong ke tetangga sebelah. Jangan bertelor saja di rumah. Susah? Ya susah, kalau kesombongan terlalu besar. View: 111
.
One thought on “Dancing with the Mobile God: Memahami Allah dalam Konteks Kemajemukan Agama dari Perspektif Paradigma Postmodernisme”