Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Dicari Pendeta yang “beyond smart”! Apakah Anda orangnya?

Apa pengertian kita tentang smart-phone? Dulu, pertama kali, kata “smart” itu disematkan pada smartphone untuk telepon genggam yang dapat berfungsi sebagai “personal data assistant”. Kini, kata “smart” itu sudah mencakup banyak hal fungsi telepon genggam, antara lain: multimedia (photo 8 megapixel dan video dengan kualitas yang tinggi), akses internet bekecepatan tinggi (LTE jauh di atas EVDO Rev B) dan internet dengan browser yang dapat membuka halaman web dengan utuh-sempurna, game dengan kualitas grafik yang hidup (seperti keluaran gameloft.com), aplikasi office yang dapat mengedit file-file seperti doc-xls-ppt, aplikasi social dan instant messaging yang membuat kita selalu terhubung dan berbagi. Iphone dan Android mempunyai aplikasi yang terus bertambah menuju sejuta aplikasi. Sistem operasi smartphone selalu terupgrade, dan aplikasi-aplikasinya selalu bertambah dan terupdate. Bahkan, hardwarenya pun juga terus berevolusi, seperti “retina display”nya iphone atau quad corenya samsung.  Karena kecanggihan ini semua, samsung menyebutnya “beyond smart” dan Samsung GALAXY S III adalah seorang sahabat, designed for humans.

Sebetulnya, jauh sebelum samsung  berbicara masalah “seorang sahabat” ini, dalam kenyataan hidup sehari-hari, banyak sekali yang sudah menjadikan smartphonenya itu sebagai sahabatnya. Kemana-mana smartphone dibawa. Melihat jumlah aplikasi yang terus bertambah menjadi ratusan ribu dan menuju sejuta aplikasi, maka smartphone ini dapat menemani kita hampir dalam semua aktivitas sehari-hari. Persahabatan dengan smartphone ini sungguh-sungguh persahabatan yang dalam dan “intim”.

Di dunia teologi, siapa yang tidak mengakui bahwa Karl Barth adalah seorang yang smart? Salah satu karyanya yang berjudul Church Dogmatics (Ger. “Kirchliche Dogmatik”), menunjukkan bahwa Barth termasuk teolog yang smart. Buku itu berjilid-jilid dan tebal-tebal. Mungkin, para master teologi di bidang dogmatika baru menghabiskan 1-2 jilid itu, dan para doktornya belum juga bisa menghabiskan semua jilid buku Barth ini. Sayangnya, buku Barth yang tebal-tebal ini sudah tidak diminati orang lagi. Di Amazon, yang bekas bisa kita peroleh dengan harga hanya $2-an saja. Sedangkan menurut dosen saya, yang bernama Tumpal Tobing (sekarang menjadi pendeta di GKI), buku Barth itu banyak dijual di pinggiran jalan di Jerman dengan harga yang hampir tidak ada artinya lagi (sudah “tidak berharga” lagi).

Salah satu pandangan Barth (dalam Church Dogmatics)  yang tidak berharga lagi adalah distingsi antara agama dan wahyu. Penyataan dipahami sebagai anugerah pemberian diri Allah sendiri di mana inisiatif muncul dari Allah sendiri. Tanpa penyataan, manusia tidak dapat mengenal Allah. Dan tanpa penyataan, usaha manusia itu akan sia-sia dan bahkan menjadi suatu bentuk ketidakpercayaan. Agama, menurut Barth, adalah suatu bentuk ketidakpercayaan. Apakah pemahaman ini berlaku bagi agama Kristen? Ya, jika agama Kristen terlepas dari penyataan dan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Tetapi, jika agama Kristen terhubung dengan Yesus Kristus, maka agama Kristen menjadi agama yang benar. Bagaimana keterhubungan itu bisa terjadi? Itu karena kehendak bebas Allah yang memilih HANYA agama Kristen dan oleh karenanya agama Kristen menjadi satu-satunya agama yang benar. Berdasarkan ini, Barth memandang negatif agama-agama lain (Joas Adiprasetya, Mencari Dasar Bersama: Etik Global dalam Kajian Postmodernisme dan Pluralisme Agama, hlm. 51-55).

Ternyata ke-smart-an Barth menuntunnya pada sikap yang tidak bersahabat terhadap agama-agama lain. Di Asia, dan di Indonesia, kita membutuhkan teologi yang bersahabat dengan agama-agama lain. Kita membutuhkan teologi agama-agama yang “designed for humans” (meminjam istilahnya samsung). Kalau telepon genggam bergerak menuju hubungan “aku-engkau”, mengapa kita manusia justru bergerak menuju hubungan “aku-itu”?

Memperlakukan umat beragama lain sebagai “itu” (baca: “benda”) sungguh-sungguh tidak manusiawi. Dan meletakkan agama Kristen di atas agama lain adalah sebuah sikap kesombongan. Kita mesti keluar dari smart-yang-tertutup. Dan kita membangun persahabatan dengan agama-agama lain. Sikap rendah hati yang dicontohkan teolog pembebasan Asia, Aloysius Pieris, dapat menjadi pilihan yang bermakna di dalam realitas agama yang majemuk ini. Ini memang revolusioner. Tetapi, adakah yang lebih baik dari itu (kayak iklan obat nyamuk “hit”)?

Di tahun baru, 2013, yang sudah di depan mata ini, kita membutuhkan teologi dan pemimpin jemaat/pendeta yang mampu menjalin persahabatan yang “intim” dengan umat beragama lain. Ya, kita membutuhkan pemimpin jemaat/pendeta yang “beyond smart”.    View: 29

This post was written by

rudy phan – who has written posts on Berteologi.com.
Sejak pertobatan di kelas 1 SMA, saya sangat menyukai buku-buku teologi. Hal itu terus berlanjut di bangku kuliah. Perpustakaan adalah tempat paling favorit. Saya bisa datang lebih awal dan pulang tatkala perpustakaan mau tutup. Sekalipun di dahului oleh banyak masalah, akhirnya lulus juga dari fak teologi Universitas Kristen Duta Wacana thn 1999. Setelah lulus, saya tidak pernah mengirim ijazah ke gereja, sehingga saya sampai sekarang belum pernah melayani di gereja. Sekarang, sambil berbisnis, saya ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga, tulisan-tulisan yang ada di web ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Email  • Google + • Facebook  • Twitter

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>