Penelusuran Humor dalam Alkitab yang Berpuncak pada Peristiwa Salib Yesus Kristus
Di dalam setiap perayaan paskah, kita selalu diajak untuk merenungkan penderitaan Yesus di atas kayu salib. Penderitaan yang begitu berat dan dalam, yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Bukan hanya renungan-renungan kotbah paskah, banyak buku yang lahir hasil merenungkan peristiwa salib itu. Stephen Tong, merenungkan peristiwa salib ini dalam bukunya yang berjudul 7 Perkataan Salib.
Dalam buku itu, Tong menegaskan bahwa Yesus datang ke dunia dan mati di atas kayu salib untuk menjalankan kehendak Allah, yaitu rencana penebusan Allah yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Hanya Kristus saja, Allah yang menjadi manusia yang bisa menjalankan tugas tersebut, tugas untuk substitusi, mengganti orang berdosa.
Menurut Tong, saat-saat di kayu salib untuk Yesus adalah saat paling lelah secara fisik, saat paling sengsara dan saat paling sendiri. Dosa terbesar manusia adalah penghinaan terhadap Yesus Kristus. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada menghina salib dan segala sengsara yang ditanggung oleh Yesus Kristus (hlm. 19).
Berbicara tentang Humor Salib, atau dimensi humor pada peristiwa salib Yesus adalah hal beresiko tinggi. Mengapa demikian? Pada umumnya, seperti Tong, umat Kristen melihat bahwa di kayu salib terjadi peristiwa penderitaan yang begitu mengerikan; tidak ada yang lucu pada peristiwa itu. Siapa saya yang membuat peristiwa salib itu sebagai yang lucu, mungkin akan dipandang sebagai orang sesat karena merendahkan atau menghina karya penebusan Allah.
Sekalipun menghadapi resiko tinggi, saya memberanikan diri untuk merenungkan peristiwa salib dengan menekankan dimensi humornya. Mengapa saya memberanikan diri? Karena, bagi saya, sisi humor itulah sebagai dasar kemenangan, daya juang iman dan harapan akan masa depan bersama Allah.
Dimensi humor sering dilupakan oleh umat Kristen sehingga hidup menjadi kering dan layu dalam menghadapi beratnya beban penderitaan. Padahal, dimensi humor adalah dimensi yang memungkinkan kita menjadi manusia yang otentik. Tanpa humor, kita akan berjuang dalam hidup ini dengan cara-cara yang dipakai Hitler, Stalin dan Mao, penuh kekerasan yang tak berperikemanusiaan; ganyang-mengganyang dan “saling memakan manusia”.
Penulis mempunyai pendapat bahwa siapa yang tidak memiliki humor, ia tidak bisa menjadi manusia yang otentik (baca: pengikut Kristus yang sejati) dan tidak kuat menghadapi beban berat penderitaan. Tanpa humor, manusia akan rapuh dan cepat hancur dilindas oleh kekerasan dunia dan penderitaan yang tak kenal ampun.
Untuk memulai renungan ini, kita akan menjernihkan dulu beberapa istilah dan kesalingterkaitannya.
Humor itu Bukan Lawakan (olok-olokkan)
Humor dan lawakan sama-sama mengungkapkan sisi lucu kehidupan ini. Sekalipun demikian, keduanya berbeda. Yang mendominasi kesadaran orang modern adalah lawakan, sedangkan humor sering diabaikan.
Kalau lawakan itu bersifat olok-olokan dan menghina objek yang dijadikan lawakan (entah orang rendahan atau orang tinggian seperti presiden), maka humor tetap menaruh rasa hormat terhadap “seseorang atau peristiwa yang dibicarakan”. Bahkan jika dikaitkan kepada Allah, humor-religius tidak mengenal “Allah sebagai objek”.
Humor religius adalah sebuah permainan dalam bentuknya yang sempurna, sebuah permainan Allah.Di sini Allah yang menjadi subjek permainan ini, sedangkan manusia yang masuk dalam permainan ini justru menjadi objek yang “dipengaruhi” (baca: ditransformasikan).
Salib bukanlah lawakan. Salib adalah humor. Pada penjelasan berikutnya, kita akan melihat, di mana sisi humor salib.
Kotbah yang sering membuat orang tertawa tetapi tidak membawa orang untuk memuliakan Allah adalah kotbah-lawakan, sedangkan kotbah yang membuat orang tertawa dan semakin memuliakan Allah adalah kotbah-humor-religius.
Humor, Iman dan Transendensi (Sumber: Tj. G Hommes, “Iman dan Humor”)
Dalam kitab Kejadian 18:1-5, dikisahkan tentang kabar baik untuk Sara bahwa ia akan mengandung dan mempunyai anak. Menanggapi kabar baik ini, Sara tertawa… Dalam tawa Sara, kita tidak menangkap kesan menghina atau merendahkan. Ini kabar gembira yang humoris.
Mengapa ia tertawa? Karena, bagi dia, batas untuk mempunyai anak sudah lewat. Melewati batas itu adalah hal yang tidak masuk akal (absurd). Bagi Sara, pengalaman melahirkan adalah “pengalaman batas keberadaan”-nya.
Tanggapan “tertawa” menunjukkan perjumpaan dengan “situasi batas-keberadaan”. Ini hanya mungkin karena Sara menanggapi kabar baik itu dari perspektif transenden.
“Transendensi” berarti melewati atau menerobos. Fakta alamiah diterobos sehingga apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Nah, di sinilah titik temunya dengan iman, karena iman selalu berhubungan dengan Realitas Transenden (baca: Allah). Bagi Allah, “apa yang tidak mungkin menjadi mungkin”.
Humor dan iman sama-sama hormat kepada Allah, Realitas Transenden…
Humor, Teologi dan Bahasa Metafor
Bahasa humor itu bersifat metaforis, artinya: bahasa humor memiliki makna ganda. Karakter dasar metafor adalah “acuan terbelah”, yang berarti “sesuatu itu anu” sekaligus “bukan anu”. [siapa yang mengetahui pemikiran pascamodernisme, tentu mengetahui kedalaman makna metafor tersebut. Baca juga, artikel penulis yang berjudul “Keluar dari belenggu Dogmatisme”].
Teologi, sebagai produk buatan manusia dalam bericara tentang Allah, selalu bersifat metaforis. Berteologi tidak lain adalah bermetafor. Allah itu Kasih tetapi juga bukan kasih sebagaimana yang dipahami manusia. Allah itu Raja tetapi juga bukan raja sebagaimana yang kita kenal. Allah itu Guru, tetapi juga bukan guru sebagaimana yang pernah mengajar kita.
Pemahaman kita tentang Allah selalu meleset. Semua dogma gereja dan pengakuan iman konsili bersifat meleset. Tidak ada doktrin yang pasti 100% mengungkapkan Allah sebagaimana AdaNya. Bagaimanan mungkin tepat 100% kalau yang kita bicarakan adalah Realitas Transenden Non-Empiris yang melampaui realitas empiris hidup kita sehari-hari? Dengan apakah Allah dapat disamakan?
Allah bukanlah objek yang dapat diteliti di laboratorium dan di bawah kendali manusia. Allah adalah Realitas Di Luar Kendali manusia. Manusia modern yang penuh daya cipta dan ingin mengontrol segala-galanya (bisa buat ini bisa buat itu bagaikan pencipta) tampaknya akan keberatan dengan pemahaman ini.
Teologi tanpa humor adalah teologi yang menipu diri sendiri. Pakar teologi yang suka menipu adalah pakar teologi yang bicara panjang lebar tentang Allah dan mengatakan bahwa apa yang dibicarakan itu 100% benar. Penipu ini seakan-akan mengetahui luasnya “pikiran dan hati” Allah.
Baik humor dan teologi itu bersifat meleset (di Indonesia, kita mendengar ungkapan humor plesetan, sebuah istilah yang bersifat tautologis). “Meleset”nya inilah yang membuat orang tertawa.
Humor dalam Alkitab (Sumber inspirasi: E.G. Singgih, “Menggali Humor dalam PL”, dan Theo Witkamp, “Humor dalam Wejangan Yesus”.)
Beberapa contoh humor dalam Alkitab, antara lain:
1. Kisah Hawa dan Ular (Kejadian 3): kisah dua sahabat yang akhirnya bermusuhan. Hawa, wanita yang telanjang bertemu dengan ular yang cerdik (catatan: Dalam bahasa Ibrani, “telanjang” dan “cerdik” berasal dari satu bentukan kata. “Telanjang” itu eirum, sedangkan “cerdik” itu arum. Si wanita itu eirum, sedangkan si ular itu arum). Wanita dan ular keduanya sama-sama memiliki tubuh yang meliuk dan “licin”. Keduanya tampak sebagai sahabat (karena memang sama-sama berasal dari unsur tanah, dan kata eirum-arum menunjukkan kedekatannya). Adam tidak diajak ngobrol oleh ular, karena tampaknya ular lebih bersahabat dengan wanita. Dalam berdebat tentang larangan Tuhan, ternyata arum menang melawan eirum.
Bayangkan, seperti dalam film-film animasi zaman ini, seorang wanita-telanjang berdebat dengan seekor ular-cerdik. Ketika ular itu menang, bukankah ini sebuah humor? Lucu atau tidak melihat ular bicara dengan manusia dan dalam pembicaraan ternyata ular yang menang? Dan lebih lucu lagi, tampak Adam sebagai manusia bodoh yang ikut-ikutan saja apa kata Hawa. Tanpa berpikir dan berdebat, Adam hanya membuka mulut dan makan buah terlarang itu… nyam… nyam… nyam… Setelah itu, mereka bersembunyi lagi dari hadapan Tuhan. Adegan lucu bukan? Manusia dalam keadaan telanjang ngumpet-ngumpet takut ketahuan Tuhan. Apakah mungkin manusia bisa ngumpet dari Tuhan? Tidak mungkin, tetapi tindakan lucu itulah yang dilakukan manusia.
Adegan tuding-tudingan siapa yang salah semakin menunjukkan sifat humoris cerita ini (ini seperti kisah komedi situasi di mana para pelakunya ketahuan salah dan saling menuding). Tuhan berkata kepada ular itu, “… Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini… “ (Tuhan tidak membuat permusuhan antara ular dan Adam, karena memang di antara mereka tidak ada persahabatan sebelumnya. Mungkin hanya berteman…). Persahabatan si wanita dan si ular, kini menjadi permusuhan. Yang paling lucu adalah, bukannya Tuhan menghukum mati manusia (Kejadian 2:17.. “sebab, pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati), eh… Tuhan justru “membuat pakaian” untuk manusia. Saya membaca Kejadiaan 3 ini jadi tertawa sendiri… Tertawa (dan terharu) karena melihat kasih Tuhan yang sangat besar yang tetap menyayangi manusia yang tidak mematuhi perintahNya.
Anda yang membaca tafsiran saya di atas, mungkin bertanya: lho, kok cerita tentang “manusia jatuh ke dalam dosa” jadi begitu? Sejauh pembacaan saya, ya begitulah.
Tapi, saya mengerti kebingungan Anda, karena, biasanya umat Kristen membaca Kejadian 3 ini penuh dengan keseriusan dan penuh dengan teori-teori dogmatis. Misalnya, “ular” diartikan setan. Kalau boleh saya tanya, ayat mana yang mengatakan ular itu sama dengan setan? Dan, adakah sebuah kata “dosa” dalam Kejadian 3 (bukankah kata “dosa” baru muncul dalam Kejadian 4:7)? Tentu, Anda bisa memperdebatkan semua ini. Oleh karena itu, berikanlah komentar Anda dalam situs ini atau Anda mau membuat artikel berisi tafsiran yang berbeda dari yang saya buat. Saya menyambut dengan senang hati.
2. Kisah Kecerdikan Yesus Keluar dari Jebakan Iblis dan Orang “Farisi”
Dalam Matius 4:1-11, kita membaca kisah perdebatan antara Yesus dan Iblis. Yesus dicobai oleh Iblis. Strategi Iblis adalah strategi yang penuh pertimbangan. Coba bayangkan, tatkala Yesus sudah puasa empat puluh hari empat puluh malam, Yesus lapar dan dicobai dengan makanan-roti. Pencobaan yang tepat sekali. Sekalipun demikian, Yesus berhasil mengalahkan strategi Iblis yang pertama; Ia mengatakan, “Manusia hidup… dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Nah, mengetahui jawaban Yesus ini, Iblis mem-follow up jawaban Yesus itu dengan melancarkan strategi yang kedua, yaitu memakai “firman Allah”. Tetapi, Yesus juga memakai firman Allah yang lain. Ini sudah perdebatan tingkat tinggi; layaknya para doktor teologi sedang berdebat dengan memakai ayat-ayat Alkitab. Strategi Iblis yang kedua juga gagal. Yesus berkata, “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu”. Mendengar jawaban yang kedua ini, Iblis tidak main ayat Alkitab lagi. Ia, mem-follow up jawaban Yesus dengan menuntut hak penyembahan yang sesungguhnya hanya untuk Tuhan Allah saja. Tetapi, dan yang terakhir, Yesus kembali menggagalkan strategi Iblis tersebut.
Lihatlah, Iblis tidak main-main melancarkan strateginya. Ia selalu mem-follow up apa yang diyakini oleh Yesus. Tetapi syukurlah, Yesus selalu berhasil men-sekak mati strategi Iblis tersebut.
Di mana letak humornya? Anda pernah menonton film Tom & Jerry? Anda akan tertawa melihat strategi Tom (kucing besar) yang berkali-kali ingin melukai Jerry (tikus kecil) tetapi tidak berhasil juga. Tampak Tom yang berbadan besar tetapi kalah dengan Jerry yang berbadan kecil. Kita tertawa karena Tom yang kelihatannya perkasa, ternyata kalah dengan Jerry yang berbadan kecil dan dipandang lemah.
Yesus ketika dicobai juga dalam keadaan fisik lemah. Parapembaca pasti berdebar-debar membaca kisah pencobaan ini. Bagaimana Yesus yang sedang lemah itu dapat menghadapi Iblis Penguasa Kerajaan Dunia? Tampak pertarungan yang tidak seimbang, seperti pertarungan Tom & Jerry. Tetapi lihatlah, Yesus yang tampak lemah itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa, yang dapat mematikan setiap langkah strategi Iblis. Jebakan-jebakan Iblis dapat diatasi oleh Nya. Viva Yesus…
Tidak hanya Iblis, orang Farisi, orang saduki, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua dan juga orang lain mendekati Yesus dengan pertanyaan penjebak. Tampak bahwa mereka adalah para “penguasa” dunia kerohanianIsrael. Sedangkan Yesus, hanyalah rakyat biasa, seorang anak tukang kayu. Dari segi pendidikan formal Taurat dan jabatan keimaman, mereka di atas Yesus. Pembaca Injil berdebar-debar menyaksikan kisah Yesus, dari satu episode ke episode berikutnya. Yesus dikeroyok oleh mereka semua. Tetapi lihatlah, begitu banyak pertanyaan jebakan, tetapi, Yesus yang sepertinya akan kalah oleh mereka semua, kenyataannya justru menang.Para pembaca Injil (termasuk saya) selalu senang melihat bagaimana Yesus selalu lebih cerdik dari mereka dan berhasil keluar dari jebakan mereka. Yesus sebagai rakyat biasa mengungguli kepandaian mereka semua. Kisah Yesus membuat para pembaca menjadi tersenyum dan bahkan tertawa geli… Lucu sekali, anak seorang tukang kayu bisa mengalahkan semua argumentasi orang-orang pintar.
Jika kita sedikit merasakan ada humor dalam Alkitab, maka kita mulai siap untuk memahami akan dimensi humor pada peristiwa salib Yesus Kristus.
Kita akan memasuki logika inti Yesus, yang tidak lain adalah logika Allah sendiri. Sudah siap? Mari kita mulai…
Humor Salib
Sejak awal pelayanan Yesus, Iblis selalu ingin menggagalkan apa yang dilakukan Yesus. Berbagai cara dilakukan, tetapi tidak ada yang berhasil. Akhirnya, Iblis kehilangan kesabaran, dan sifat aslinya keluar. Yang Iblis lakukan bukan lagi berdebat tentang ini dan itu. Perdebatan tidak pernah bisa mengalahkan Yesus. Akhirnya, Iblis melakukan jalan kekerasan, jalan yang memang berasal dari sifat aslinya. Segala topeng-topeng perdebatan sudah tidak diperlukan lagi. Iblis ingin mengalahkan Yesus dengan membunuhnya. Iblis begitu haus akan darah Yesus. Pikir Iblis, Yesus harus mati.
Iblis tidak tanggung-tanggung melaksanakan strategi tercanggihnya. Ia memakai salah satu murid Yesus, yaitu Yudas. Yesus sudah mengetahui hal ini ketika Ia makan Paskah dengan murid-muridNya (Matius 26: 20-25). Yudas berlagak tidak tahu, tetapi, Yesus tidak dapat dibohongi. Akhirnya, setelah berdoa di taman Getsemani, Yesus ditangkap. Ciuman Yudas kepada Yesus adalah ciuman Iblis (Matius 26: 49), yang mengantarkanNya ke Mahkamah Agama.
Setelah Yesus ditangkap, “dengan suara bulat (=semua)” mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati (Markus 14: 64). Seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mufakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawanya dan menyerahkanNya kepadaPilatus.
Bagaimana dengan rakyat? Apakah rakyat menyetujui keputusan Mahkamah Agama tersebut? Injil Matius mencatat: “mereka semua” berseru, “Ia harus disalibkan!” (Matius 27:22).
Bagaimana dengan murid-murid Yesus? Melihat perlawanan dari berbagai pihak, bahkan boleh dikatakan “semua orang”, semua murid Yesus meninggalkan Dia (Markus14:50).
Kini, Yesus, satu orang melawan semua. Sungguh adegan yang mendebarkan. Bagaimana mungkin, episode kali ini Yesus bisa menang? Apakah mungkin?
Iblis tertawa senang. Strateginya bisa mempengaruhi semua orang. Kebohongan Iblis sudah dianggap menjadi kebenaran oleh semua orang. Jalan kekerasan adalah jalan satu-satunya yang benar bagi semua orang. Strategi Iblis yang luar biasa…
Maka, proses pembunuhan segera dimulai. Yesus diolok-olok dan disiksa begitu kejam. Penderitaan yang melampaui nalar dipikul oleh Yesus. Dan akhirnya di salib… Pikir Iblis, inilah kemenangannya. Misi Yesus akan gagal… Misi Yesus tidak akan bisa diselesaikanNya…
Tetapi, benarkah demikian? Benarkah Yesus kalah?
Puji Tuhan semesta alam… Mukjizat yang luar biasa terjadi… satu orang melawan semua dan yang menang adalah satu orang itu, yaitu Yesus.
Di atas kayu salib, Yesus tidak tunduk pada jalan kekerasan Iblis. Yesus justru mematahkan lingkaran kekerasan Iblis dengan jalan perendahan, dengan jalan pengampunan.
Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Sungguh di luar logika manusia, sungguh tidak masuk akal. Tetapi demikianlah logika Allah, logika kasih, logika nonviolence.
Bukannya gagal di tengah jalan, justru, di kayu saliblah sempurna jalan kasih Allah. Yesus berkata, “sudah genap”. Apa yang dipikir Iblis bahwa Yesus akan gagal menyelesaikan misiNya, ternyata justru di salib telah genap, telah selesai.
Di mana letak humornya? Coba Anda bayangkan, bagaimana lucunya melihat wajah Iblis terbengong-bengong melihat kesuksesan-kemenangan Yesus. Iblis yang semula senang melihat adegan kekerasan-pembunuhan itu (karena dipikirnya ia menang), kini di sekak mati oleh Yesus dan tidak berkutik lagi. Jalan kekerasan dibuka kedok-kebohongan-nya setuntas-tuntasnya. Manusia kini bisa melihat dengan jelas, yang mana yang benar, dan yang mana sebuah kebohongan,… yang mana jalan Allah dan yang mana jalan Iblis.
Di kayu salib, jalan kasih, jalan Allah telah menang bersinar… Kemenangan Yesus adalah dasar pengharapan kita. KemenanganNya adalah semangat daya juang iman para pengikutNya (termasuk Anda dan Saya). Kemenangannya mengantisipasi tawa dalam meja perjamuan kudus bersama Bapa di akhir jaman nanti. Inilah kepastian iman. Dan kepastian itu dimeteraikan di atas kayu salib.
Dalam kitab Wahyu, Yesus digambarkan sebagai anak domba yang kecil, sedangkan iblis digambarkan sebagai monster berkepala tujuh yang dari matanya keluar api. Di atas kertas, mungkin kita mengira bahwa monster itu akan menelan habis anak domba itu. Namun, bagaimana kisah akhirnya? Kitab Wahyu menyatakan bahwa anak dombalah yang menang. Dapatkah kita merasakan humor di dalam kontroversi besar ini?
Perjuangan menuju kemerdekaan dan kepenuhan kemanusiaan tidak dapat diwujudkan dengan jalan kekerasan. Humor adalah jalan nonviolence. Humor membuat perjuangan ini mempunyai spiritnya, memunculkan kreativitasnya dan mengembangkan pengharapannya.
Pada titik ini, saya termasuk orang yang tidak setuju adanya hukuman mati, baik kepada para koruptor, mafia narkoba maupun teroris. Apa yang mereka lakukan (dan pikirkan) adalah kejahatan yang luar biasa. Tetapi, kita tidak dapat mengatasi kejahatan dengan berbuat kejahatan. Karena dengan demikian, kejahatan akan bergulung seperti bola salju, tambah hari tambah besar. Creative nonviolence adalah jalan satu-satunya yang tidak bisa ditawar lagi. Anda setuju? View: 89
.