Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Karena Worldview-nya Berbeda, maka Yesusnya pun juga Berbeda

Worldview

 

Worldview Mitologis dan Doktrin Gereja

Ada dunia atas (“langit”) dan ada dunia bawah (“bumi). Apa yang terjadi di langit kait-mengkait dengan apa yang terjadi di bumi; demikian juga sebaliknya. Contoh: percakapan Iblis dengan TUHAN di, kait-mengkait dengan hidup Ayub di bumi. Karena ada langit di atas dan bumi di bawa, maka dapat dipahami adanya ide Yesus yang turun dan naik kepada Bapa. Ide inkarnasi (Firman menjadi manusia) dalam injil Yohanes berada dalam worldview mitologis ini (atau worldview kuno, kata Walter Wink). Dari ide dasar inkarnasi itu, dikembangkan dalam dunia atau alam pikiran Yunani menjadi doktrin ALLAH SEPENUHNYA, MANUSIA SEPENUHNYA, yang kata Joas Adiprasetya doktrin ALLAH TRITUNGGAL “merupakan konsekuensi logis dari ” doktrin itu. Allah menjadi manusia dipahami secara literal-historis.

(saya sendiri akan melepaskan Yesus dari Allah Tritunggal, karena Yesus sekalipun bangkit dari kematian tetap bukanlah Allah. Dan sekali lagi, Allah Tritunggal akan saya bicarakan dalam paradigma metafor).

 

Worldview Saintifik dan Yesus Sejarah

Yang ada hanyalah “bumi” (alam semesta). Kalau alam semesta ditafsirkan secara naturalistik, maka dimensi spiritual ditolak (worldview saintifik naturalis). Sedangkan, kalau ditafsirkan secara realis kritis (seperti kata John Hick), maka dimensi spiritual diterima (worldview saintifk realis kritis). Di sini, Yesus adalah seorang manusia historis dari Nazareth abad pertama yang meyakini monoteisme Yahudi. Spiritualitas Yesus yang begitu kuat dan dalam, sungguh-sungguh menyatakan kehadiran Allah. Yesus sangat terbuka dan bahkan “transparan” terhadap REALITAS TRANSENDEN (“Bapa”, atau bisa dipakai kata yang lain). Kata-kata Yesus, “aku dan Bapa adalah satu” dipahami secara metaforis (Ioanes Rakhmat, doktor bidang studi Yesus sejarah, banyak berbicara tentang spiritualitas saintifik dan metafor di blognya).

 

Worldview mitologis masih hidup sampai sekarang. Anda yang merasa pas memaknai hidup ini di dalam worldview ini, silahkan. Dan memang, worldview ini banyak dipegang oleh anggota gereja. Tetapi, jika Anda sudah tidak pas lagi dengan worldview itu beserta konten-nya (entah konten asli atau hasil pengembangannya seperti doktrin inkarnasi dan Allah Tritunggal dengan tafsir tradisionalnya), Anda dapat mencoba menikmati worldview saintifik realis-kritis dengan spiritualitas yang berbeda. Saya menduga bahwa kita dan anak-anak kita ke depannya akan lebih pas menghayati makna hidupnya dalam worldview yang saintifik realis-kritis ini. Mengapa demikian? Karena, budaya sains telah menjadi makanan sehari-hari di bangku sekolah dan semakin kuat menjadi alam berpikir di masa depan.

 

Kalau saya sendiri sudah merasa tidak pas dengan worldview mitologis tersebut. Mengapa? Karena, implikasinya bisa memberikan dampak yang buruk. Misalnya:

1. Di dalam worldview mitologis dengan penafsiran yang literal-historis, di mana Yesus dipahami sebagai Allah dan menjadi Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, maka di antara agama-agama di dunia, maka hanya agama Kristen-lah satu-satunya agama yang didirikan oleh Allah dan hanya Yesus lah SATU-SATUnya jalan keselamatan. Dan ide SATU-SATUNYA ini dapat menjadi pembenaran untuk tindakan penjajahan bangsa Eropa kepada Dunia ketiga, antisemitisme yang melahirkan kekerasan yang mengerikan pada holocaust, dan kanibalisme terhadap agama-agama suku. Demikian juga, ide SATU-SATUNYA ini menumbuhkan arogansi yang mempersulit orang Kristen menjadi “garam dunia”. Ini suatu sikap yang tidak menumbuhkembangkan dialog antar agama. Sikap yang tidak bersahabat yang membuat orang Kristen sebagai orang asing yang tidak bisa efektif menjalankan misinya sebagai pengikut Yesus.

2. Bahasa dikembangkan dalam konteks dunia manusia dan ketika kita menggunakannya untuk menunjuk REALITAS TRANSENDEN, maka tak terelakkan lagi bahwa bahasa itu selalu mengandung makna metaforis (lihat gambar di bawah). Di sini, kata-kata yang kita pakai untuk REALITAS TRANSENDEN bukanlah sebuah definisi-representasi-konseptual, tetapi petunjuk-transformasi-metaforis. Ketika saya membahas masalah Teologi Pascamodern, Kontekstualisasi Teologi dan Hermeneutik, saya menggambarkan “Allah” berada di luar lingkaran hemeneutik (lingkaran pemahaman) manusia. Allah itu Misteri. Ia tidak dapat dipegang-ditangkap dengan perangkap intelektual kita. Berbicara tentang YANG MISTERI ini, bahasa metafor lebih cocok. Mengapa? Karena, dalam metafor ada keterlibatan yang hangat, ada kejutan-kejutan kreatif yang imajinatif dan revelatoris, ada sesuatu yang “lebih” yang dinyatakan dan memiliki daya transformatif, serta tetap menghargai MISTERI itu sebagai DIA YANG LAIN.

 

3. Hadirnya Allah sebagai YANG LAIN ini, sungguh akan membatasi kita menggunakan bahasa antropomorfis-literal, di mana Allah dilihat sebagai Dia yang Mahakuasa yang dapat mengintervensi hidup manusia. Dalam bahasa ini, bencana alam seperti tsunami yang menyayat hati manusia dipahami sebagai hukuman Allah. Ya, Allah sedang marah dan dia menghukum manusia. Dan kalau ada kecelakaan yang mengakibatkan 99 orang mati dan 1 yang selamat, maka kita bisa bersyukur bahwa Allah telah menyelamatkan 1 orang tersebut tanpa memikirkan mengapa Allah membiarkan 99 orang lainnya mati mengenaskan.

Dengan berbeda worldviewnya, maka pemahaman kita tentang siapakah Yesus itu juga berbeda. Di sini, yang penting bukanlah salah atau benar. Tetapi, dengan pemahaman kita itu, transformasi apa yang terjadi dalam hidup kita. Kalau transformasi itu membuat hidup kita mencapai kepenuhan kemanusiaan kita, maka tetap peganglah itu. Tetapi, kalau dengan pemahaman kita itu membuat kita tidak manusiawi dan bahwa lebih rendah dari binatang, maka buanglah pemahaman kita itu dan mencari alternatifnya yang lebih bermakna. Di sini, kalau masih tetap ingin tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah, praxis hidup kitalah yang lebih menjadi patokannya, bukan “ortodoksi” doktrin. Artinya, bisa jadi, orang yang tidak mempercayai doktrin Inkarnasi dan Allah Tritunggal, hidupnya jauh lebih bermakna dan suci. Dan sayang sekali, kalau orang-orang suci itu dikeluarkan dari gereja karena memegang doktrin yang berbeda. Bagaimana menurut Anda? Ngikutin Joas atau Ioanes? :)     View: 41

This post was written by

rudy phan – who has written posts on Berteologi.com.
Sejak pertobatan di kelas 1 SMA, saya sangat menyukai buku-buku teologi. Hal itu terus berlanjut di bangku kuliah. Perpustakaan adalah tempat paling favorit. Saya bisa datang lebih awal dan pulang tatkala perpustakaan mau tutup. Sekalipun di dahului oleh banyak masalah, akhirnya lulus juga dari fak teologi Universitas Kristen Duta Wacana thn 1999. Setelah lulus, saya tidak pernah mengirim ijazah ke gereja, sehingga saya sampai sekarang belum pernah melayani di gereja. Sekarang, sambil berbisnis, saya ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga, tulisan-tulisan yang ada di web ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Email  • Google + • Facebook  • Twitter

2 thoughts on “Karena Worldview-nya Berbeda, maka Yesusnya pun juga Berbeda

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>