
Spiritualitas pengosongan diri Yesus dalam struktur/pola/paradigma agape Kristus membuat dirinya terbuka total terhadap Allah, manusia dan alam. Yesus bisa terbuka sedemikian total karena pola agape Kristus itu berintikan perichoresis (dalam bahasa Yunani: peri artinya sekitar/sekeliling/mengelilingi dan choresis artinya gerak tari). Dari perikhoresis kita melihat adanya tarian cinta yang menyatu membentuk lingkaran. Yang satu dan yang lain saling memberi dan menerima (menyambut pemberian dari yang lain). Yang satu meresapi yang lain dan yang satu tinggal dalam yang lain dan sebaliknya.
Tarian cinta yang menyatu membentuk lingkaran itu tidak terjadi di dalam lingkungan yang eksklusif. Tarian itu terjadi di dalam pesta perjamuan yang besar. Lukas 14:21 mengatakan, “pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah kemari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh”. Perjamuan besar yang dihadiri oleh mereka yang terbuang, antara lain yaitu para pelacur, para pemungut cukai, tukang jagal dam gembala babi. Ini perjamuan besar yang berlimpah ruah orang banyak. Yesus ‘menari’ bersama dengan orang banyak ini. Di dalam tarian itu, dirasakan ketunggalan Yesus bersama dengan ‘yang lain’.
Suasana tarian yang meriah telah jauh dari kehidupan pengikut Yesus. Yesus telah menjadi patung dan membeku. Tidak ada gerak tari yang menggairahkan. Mungkinkah di dalam tarian-yang-saling-menyekitari hanya terjadi gerak lurus seperti pasukan berbaris? Tidak mungkin. Tarian-yang-saling-menyekitari adalah tarian yang penuh semangat. Seperti Jack dan Rose yang menari penuh semangat dalam film Titanic. Di video itu begitu tampak, tawa Jack adalah tawa Rose. Gerak Jack adalah gerak Rose. Begitu bergairah, begitu penuh semangat, begitu penuh cinta. Ada pengalaman ketunggalan yang dalam antara Jack dan Rose.
Yesus menyatakan Allah, menyatakan tarian Allah (baca dalam artikel lain: Dancing with the mobile God). Karena tarian Allah ini adalah tarian yang penuh semangat, tidak usah heran kalau Yesus akhirnya menerobos batas-batas “kesucian” zamannya. Dalam bahasa seorang pakar Yesus Sejarah, Marcus J. Borg, politik bela rasa Yesus begitu subversif terhadap tatanan ketahiran/kemurnian dunia sosial Yahudi (baca Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali). ”Bela rasa” berarti merasakan perasaan-perasaan orang lain dengan cara yang mendalam, merasuk sampai ke organ tubuh dalam di bawah kepala, sampai ke hati, paru-paru, perut, jantung dan sebagainya (hlm. 53). Yesus betul-betul merasakan penderitaan yang lain. Batas-batas sosial yang tajam yang diciptakan oleh sistem kemurnian itu diterobos oleh Yesus dengan bela rasanya. Yesus menjadi yang terbuang demi kaum terbuang. Ini betul-betul bela rasa yang perikhorestik, yang begitu meresapi. Di sini, Allah yang dinyatakan Yesus adalah Allah yang turut menderita.
Dengan merasakan tarian Allah di dalam Yesus dari Nazareth, dalam artikel berikutnya, kita akan merasakan tarian Allah di dalam DiriNya. Sebuah tarian yang revolusioner yang menjadi gerak dan mimpi bagi perjuangan pembebasan. Setidak-tidaknya, demikianlah yang dipahami, oleh seorang teolog pembebasan, Leonardo Boff dalam bukunya Allah Persekutuan atau Trinitas/Allah Tritunggal. View: 15
.