Sebuah Interpretasi terhadap Kata-kata Yesus, “allah-Ku allah-Ku, mengapa
engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)
Secara filosofis, kita tidak bisa mengenal Allah-pada-DiriNya. Yang kita kenal adalah Allah-sejauh-dipahami-rasio-manusia. Oleh karena sifat insufficient rasio manusia, maka lahirlah banyak pemahaman tentang Allah. “Allah dicipta” berdasar sistem berpikir atau logika kultural tempat ia berada.
Alkitab tidak menyaksikan kepada kita tentang hakikat Allah secara filosofis-murni (baca: ontologis saja). Alkitab lebih utama memberi kesaksian iman yang fungsional tentang Allah dalam hubungan-ketritunggalan-Nya (penyataan langsung) dan dalam hubungan dengan umat manusia dan ciptaanNya (penyataan tidak langsung) demi keselamatan manusia dan semesta. Alkitab tidak berbicara tentang Allah saja, titik. Tetapi, berbicara tentang Allah dalam Yesus yang mengutus Roh Kudus untuk keselamatan manusia dan semesta. Di Alkitab, realitas Allah-pada-DiriNya selalu bersifat fungsional. Allah, tanpa mengurangi makna transendensi-Nya, selalu berada dalam hubungan.Melalui peristiwa historis-manusia dan kejadian alam, Allah mewahyukan-menyatakan-membuka-DiriNya. Oleh karena itu, kita mengenal Allah Perjanjian yang mencipta dan menyelamatkan manusia dan semesta.
Realitas pengungkapan Diri Allah diamini memang ada dan benar-benar terjadi. Realitas itu dipahami manusia dengan sistem berpikirnya masing-masing. “Allah Perjanjian” sejauh dipahami rasio manusia (dan diungkapkan dalam bahasa) adalah salah satu pemahaman atau gambar Allah hasil olah-cipta manusia. Banyak paham tentang Allah yang lainnya. Alkitab sendiri banyak menceritakan gambaran tentang Allah, yang bahkan antara gambar yang satu dan gambar yang lain bisa saling bertentangan.
Sebelum menelusuri pertentangan antar gambar Allah di dalam Alkitab, kita perlu mengetahui, mengapa hal itu bisa terjadi. Menurut penulis, perbedaan pemahaman atau gambaran itu bersumber dari kondisi teologis manusia yang kontradiktif-dialektis. Manusia yang dicipta baik itu (sesuai gambar Allah) telah menjadi pendosa. Sebagai gambar Allah, manusia menjadi pendosa dan sebagai pendosa, manusia tetap adalah gambar Allah (Arie J. Plaister, Manusia Gambar Allah). Ini adalah kondisi dialektika dasar yang membuat manusia terus bergumul sepanjang hidupnya. Jika manusia menggambarkan Allah dari kondisinya sebagai gambar Allah, maka hasil olah-cipta gambarannya tentang Allah akan mendekati realitas Allah-pada-DiriNya. Tetapi, jika manusia menggambarkan Allah dari kondisinya sebagai pendosa, maka hasil olah-cipta gambarannya tentang Allah akan menjauh dari realitas Allah-pada-DiriNya.
Dosa memang bisa dipahami sebagai ketidaktaatan. Sekalipun demikian, pemahaman ini belum menyentuh akan dahsyatnya realitas dosa itu. Yang lebih tepat, sebaiknya, dosa dipahami sebagai kekuasaan destruktif atau kuasa jahat manusia yang melahirkan tindak kekerasan yang berdimensi individual-personal dan kolektif-struktural. Dosa melahirkan pemberontakan terhadap Allah. Allah menjadi musuh manusia. Dalam konteks permusuhan itu, pemahaman kita tentang Allah tentunya “meleset-jauh” dari realitas Allah-pada-DiriNya.
Pemahaman kita tentang Allah memang hanya bersifat “mendekati”, bahkan kadang “meleset’ terlalu jauh. Itu berarti, kita tidak bisa 100% obyektif menangkap Allah dan tahu tentang Dia sepenuhnya. Secara teologis, sejalan dengan mentalitas filsafat pascamodern, kita tidak bisa memutlakkan pemahaman atau gambaran kita tentang Allah. Rasionalitas manusia bukanlah cermin yang utuh yang bisa menangkap utuh (pewahyuan) Allah. “Cermin” itu telah pecah. Dan seandainya kita mau bercermin dari pecahan-besar yang ada itu, paling-paling kita hanya memiliki “gambaran yang samar-samar”. Sesaleh-salehnya manusia, gambarannya dia tentang Allah hanyalah samar-samar saja.
Sangat disayangkan, bahwa kita yang adalah pendosa, seringkali memutlakkan gambaran kita tentang Allah. “Allah ciptaan” kita, kita anggap 100% identik-sama dengan Allah-pada-DiriNya. Pemutlakkan itu telah mejerumuskan kita ke dalam penyembahan berhala. Ya, memberhalakan “Allah ciptaan” kita sendiri.
Ada baiknya, kita belajar dari Ayub, yang semula memiliki pemahaman tentang Allah yang sama dengan sahabatnya, setelah melalui proses penderitaan berat hingga mau mati, ia terbuka untuk memiliki pemahaman atau gambaran Allah yang baru. Untuk uraian berikutnya, kita banyak belajar dari karya Choan S. Song, Jesus the Crucified People.
Pada awalnya, sebagaimana tertulis dalam prolog kitab Ayub (Ayub 1:1-2:13), Ayub memiliki pemahaman tentang Allah yang sama dengan pemahaman sahabat-sahabatnya, yaitu Allah Retribusi, atau Allah Pembalas yang haus darah yang melakukan kekerasan dan mendatangkan penderitaan (singkatnya: Allah Haus-Darah). Allah Haus-Darah adalah Allah yang apatis yang tidak bisa ikut dalam penderitaan manusia. la justru penyebab penderitaan manusia. Kemudian, mulai bab 3, Ayub mulai protes kepada Allah Haus-Darah ini.
Ketiga teman Ayub (Elifas, Bildad, dan Zofar) memiliki jalan pikiran sebagai berikut:
- Segala penderitaan di dunia ini disebabkan oleh Allah.
- Penderitaan harus diartikan sebagai hukuman dari pihak Allah, yang ditimpakan kepada manusia karena dosanya
- Ayub sedang menderita, maka ia seorang pendosa.
Ayub juga memiliki jalan pikiran yang sama dengan temannya tersebut. Hanya saja, ia yakin kalau dirinya tidak bersalah atau berdosa. Oleh karena ia tidak berdosa, maka seharusnya ia tidak menderita. Maka, Ayub mengambil kesimpulan bahwa Allah (Haus-Darah) memperlakukan dirinya dengan tidak adil. la tidak bisa berdiam diri terhadap kekerasan dan kekejaman Allah (Haus-Darah) kepadanya. Terhadap Allah Retribusi ini, Ayub memprotes dan melawannya. Dalam protesnya ini, Ayub mengharapkan pembelaan dari Allah (Penebus yang Hidup dan Menghidupi) melawan musuhnya, yakni melawan Allah (Haus-Darah yang mematikan). Allah Penebus lawan Allah Haus-Darah.
Dalam kisah protes Ayub kepada Allah Haus-Darah, tampak bahwa sebagai pendosa, manusia cenderung menggambarkan Allah sebagai Allah Haus-Darah. Dan sebagai gambar Allah, manusia menggambarkan Allah sebagai Penebus.
Sebagai gambar Allah yang sejati, Yesus juga melakukan protes kepada Allah Retribusi (Allah yang apatis) yang tidak bisa ikut menderita bersama manusia. Yesus menggambarkan Allah yang ia pahami sebagai the compassionate God, Allah yang turut Menderita. Hati Allah adalah hati yang penuh kasih, Dialah Allah yang mengasihi semua orang. Allah yang peka terhadap penderitaan manusia dan mau menderita bersama manusia (Singkatnya: Allah Kasih-Derita). Kebersamaan dalam penderitaan ini ditunjukkan secara nyata oleh Yesus dalam acara “makan bersama” dengan orang-orang berdosa, dengan orang-orang yang menderita. Kebersamaan itu berpuncak pada peristiwa salib.
Seringkali, dalam peristiwa salib, orang melihat bahwa Allah itu adalah Allah Haus-Darah. Ini dilandasi oleh pemikiran bahwa Yesus adalah korban yang
dituntut oleh Allah yang haus darah korban. Tetapi, sesungguhnya tidak demikian. Yesus bukanlah korban yang direncanakan Allah sebelumnya. la dibunuh karena kesetiaan yang total kepada pengutusanNya dalam situasi politis yang konkret. la dibunuh karena rencana manusia yang berhati keras, manusia yang melegitimasi kekerasannya dengan ajaran tentang Allah Haus-Darah, Allah Kekerasan. Di salib, Allah (Bapa) tidak menuntut korban-korban, tetapi justru la mengidentifikasi diriNya dengan korban-korban dan menyatakan solidaritas-Nya terhadap para korban. Di salib, Allah membuka selubung kekerasan manusia yang paling terdalam dan menanggapinya dengan kasih tanpa kekerasan.Allah yang ikut menderita adalah Allah tanpa kekerasan.
Jika Allah Yesus adalah Allah yang ikut menderita, maka mengapa ketika disalib, ia berseru: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27: 46). Sepertinya, tampak dalam seruan itu, Allah meninggalkan Yesus. Allah tidak ikut menderita dengan Yesus yang sedang berada di dasar penderitaan yang paling menyakitkan. Bukankah seharusnya, di dalam dasar penderitaan itu, Allah menemani, memeluk dan solider dengan penderitaan Yesus? Pertanyaan ini akan terjawab jika kita mengetahui, siapa yang dimaksud dengan “Allah” di dalam seruan Yesus itu.
Di dalam keempat Injil, Yesus menyapa Allah dengan sebutan Bapa. Sekurang-kurangnya, ada 170 kali dalam Injil sebutan “Bapa” untuk Allah keluar dari mulut Yesus. Markus menyebutnya 4 kali, Lukas 15 kali, Matius 42 kali dan Yohanes 109 kali. Kata “Bapa” berasal dari bahasa Aram Abba, yang berarti “Bapa yang terkasih” atau “Bapa tercinta penuh keibuan”, Bapa yang memiliki cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya. Bapa adalah Allah yang penuh bela rasa(penuh ke-rahim-an), dekat dan akrab. Seperti seorang ibu yang begitu dekat dengan anak yang dikandungnya, demikian juga kedekatan Yesus dengan Bapa. Sepanjang hidupnya, bahkan disaat-saat kritis sebagaimana terjadi di taman Getsemani, Yesus berdoa “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila aku meminumnya, jadilah kehendakMu” (Matius 26: 42). Di saat sedih dan gentar, Yesus tidak berdoa kepada Allah Haus-Darah, tetapi kepada Allah Bapa. Kasih Bapa adalah kasih sepanjang masa, kasih yang sejati-abadi yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun juga. (Allah Tritunggal adalah Allah Persukutuan di dalam kasih yang sejati-abadi. Dosa, maut, kekerasan atau apapun juga tidak bisa memutuskan kasih yang sejati-abadi itu.)
Seandainya kita mengikuti jalan pikiran teologi tradisional yang mengatakan bahwa Yesus mati untuk menanggung dosa manusia, maka Bapa melihat Yesus yang menanggung dosa ini tentu tidak akan kabur meninggalkan Yesus. Kekudusan Bapa tidak akan luntur jika bersentuhan dengan orang berdosa. Ya, seperti Yesus tetap tidak berdosa sekalipun lahir dari Maria manusia biasa-(baca: berdosa). Yesus tetap tidak berdosa sekalipun bergaul dan “makan bersama” dengan orang-orang berdosa. Karena kasihNya, Bapa bukannya menjauhi orang berdosa, tetapi justru mendekati/menghampiri orang berdosa. Di atas kayu salib, ketika Yesus mati untuk menanggung dosa kita, Bapa tidak menjauhi Yesus, tetapi mendekati-merangkul-menciumNya (seperti kisah tentang “anak yang hilang” dalam Lukas 15:11-32). Sejak awal kedatangan Yesus hingga kematianNya di kayu salib, prinsip solidaritas Allah terus dinyatakan. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Romo Tom Jacobs mengatakan bahwa “inti pokok kristologi Paulus adalah prinsip solidaritas” (dalam Paulus, Hidup Karya dan Teologinya). Bahkan, bagi penulis sendiri, itulah inti pokok kristologi Alkitab.
Bapa tidak pernah takut mendekati dan “makan bersama” dengan orang berdosa dan menderita, sebagaimana yang Yesus lakukan. Bapa adalah Allah yang ikut menderita. Karena kasihNya, la tetap menyertai Yesus ketika disalib. Penderitaan Yesus adalah juga penderitaan Bapa. Di salib, Bapa menemani Yesus dalam “diam’Nya. “Diam” protes kepada ketidakadilan karena orang yang tidak bersalah mengalami penderitaan yang sangat dalam. Ya, “diam” protes sebagaimana yang Yesus tunjukkan di hadapan Pontius Pilatus. “Diam” yang lahir dari “rahim” Allah karena merasakan begitu dalamnya penderitaan yang dialami anakNya yang terkasih. “Diam” yang powerful, sebagaimana seorang ibu memberikan makanan yang menguatkan kepada janin yang ada dalam kandungannya. Yang pada akhirnya, memberi kekuatan kepada Yesus untuk berseru dengan suara nyaring,” Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan NyawaKu” (Lukas 23: 46).
Mengapa ketika di salib, Yesus tidak berdoa: “Bapaku, Bapaku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Karena, memang Bapa tidak pernah meninggalkan Yesus. Untuk pertama kali, dan tentu untuk yang terakhir kali, di salib Yesus berseru kepada Allah tidak dengan sebutan “Bapa”, tetapi dengan sebutan “Allah”. “Allah” ini bukanlah Bapa. Lalu, siapakah “Allah” yang dimaksud oleh Yesus ketika ia disalib? “Allah” itu adalah Allahnya mereka yang menyalibkan dia, Allah Kekerasan yang haus darah. “Allah” ini adalah Allah yang apatis, yang takut menderita. Akhiran “ku” pada seruan “Allahku Allahku” adalah sebuah pemisalan. Yesus ingin menunjukkan kepada mereka yang menyalibnya bahwa seandainya ia memiliki Allah Haus-Darah yang mereka sembah, maka Allah seperti itu akan impoten (tak berdaya) menghadapi penderitaan dan oleh karenanya pasti meninggalkan dia (baca: Yesus). Berdasarkan hal ini, menurut penulis, terjemahan yang lebih tepat untuk Matius 27:26 adalah: “allah-Ku allah-Ku, mengapa engkau meninggalkan Aku?”
Di salib, Yesus memprotes keras terhadap Allah Haus-Darah. Tetapi, di salib, Yesus menegakkan kerajaan Allah, kerajaan cinta kasih. Cinta kasih yang sejati, yang proaktif (“mendahului”) dan tanpa pamrih. Kasih yang bisa mengampuni orang-orang yang menyalibkanNya. la berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).
Di saat kita menderita karena beban hidup yang tak terkatakan; di saat nafas sudah terengah-engah mencari jalan keluar; di saat air mata sudah mulai mengering karena tidak bisa mengalir lagi; di saat berada di “titik nol” dan merasa diri seperti sampah yang terbuang; di saat kegelapan begitu pekat mencekam, ingatlah selalu, bahwa Allah Bapa yang dinyatakan oleh Yesus Kristus adalah Allah yang turut menderita. Ia mendekati kita yang menderita. Ia merangkul-mencium kita dan memberi kekuatan kepada kita, sehingga kita dapat bangkit berdiri tegak dan berani menghadapi pahitnya penderitaan hidup ini. Ingat kasih Allah, kasih yang mempunyai kuasa membangkitkan orang mati.
Agape, kasih sejati-abadi Allah telah dinyatakan dalam hidup, mati dan kebangkitan Yesus Kristus. Hidup berpusat pada agape akan semakin “mendekatkan” gambaran kita tentang Allah kepada realitas Allah-pada-DiriNya. Tentu, keberhasilan membangun gambaran Allah yang mengungkapkan kebenaran wahyu Allah adalah hasil bimbingan dari Roh Kudus. Bimbingan Roh Kudus yang memampukan kita menapaki jalan salib Yesus. View: 112
.