Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Spiritualitas Kosmik dan Kebangkitan Yesus

Spiritualitas Kosmik

Dalam artikel sebelumnya, Spiritualitas Pembebasan Yesus Spiritualitas Tanpa Charger, saya menafsirkan inkarnasi bukan sebagai Allah yang turun menjadi manusia. Kata-kata menjadi “daging” dalam Injil Yohanes itu ingin mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat dalam dan kuat antara Yesus dan Allah. Hubungan yang sangat dalam dan kuat itu dimungkinkan karena spiritualitas pengosongan diri Yesus. Spiritualitas ini memberi ruang yang begitu luas bagi kehadiran Allah. Dengan pengosongan dirinya yang radikal ini, Allah mengisi ruang Yesus dengan penuh. Pada titik kepenuhan inilah, kita melihat Allah di dalam Yesus. Yesus sendiri mengatakan bahwa “Aku dan Bapa adalah satu”. Di sini Yesus tidak menjadi ALlah, tetapi ia semakin dia menjadi ilahi.

Leonardo Boff, dalam bukunya Yesus Kristus Pembebas, mengatakan bahwa “eksistensi Yesus adalah sebuah eksistensi yang total berkiblat kepada yang lain dan Yang lain (Allah)”, hlm. 197. Dia mutlak terbuka kepada yang lain khususnya mereka yang secara religius dan sosial disingkirkan. Mencintai musuh yang dikotbahkannya (Mat 5:43) telah dihayati dan diamalkannya sendiri, tatkala ia mengampuni mereka yang menyalibkannya. Yesus adalah seorang yang menghampakan diri. Namun dengan itu dia dapat sepenuhnya diisi oleh yang lain. Di sini, Yesus menjadi semakin manusiawi.

Menghampakan diri berarti menciptakan ruang di dalam diri agar dapat diisi oleh kenyataan yang lain. Hanya dengan keluar dari dirinya, dia masuk semakin mendalam ke dalam dirinya. Semakin manusia terlibat dalam suatu relasi dan keluar dari dirinya, semakin dia bertumbuh dalam dirinya. Di sini Yesus mengalami transformasi personal yang dalam.

Menurut Albert Nolan, dalam Jesus Today, yang lain itu bukan hanya Allah dan manusia, tetapi juga semesta alam. Oleh karenanya, Yesus mengalami akan kesatuan bukan hanya kepada Allah dan manusia, tetapi juga kepada alam. Yesus memandang manusia-manusia sebagai bagian integral dari ciptaan Allah. Sebuah bagian sekalipun sangat bernilai dan penting, tetapi tetap sebagai bagian. Yesus mengalami dirinya sebagai satu bagian dari alam. Ia mengutip apa yang dikatakan oleh pakar Yesus Sejarah, John Dominic Crossan, “Keteduhan dan keyakinan yang diteruskan oleh Yesus kepada para pengikutnya berasal tidak dari mengetahui misteri-misteri tersembunyi dari masa lampau atau masa kini, tetapi dari melihat ritme alam di sini dan sekarang ini”, hlm. 251.

Lebih lanjut, Nolan membicarakan masalah kesatuan antara Allah dan alam semesta. Pertama-tama, dia mengkritik pemakaian kata “di atas/ di luar” alam semesta sebagai transendensi Allah, dan “di dalam” alam semesta sebagai imanensi Allah. Bagi Nolan, metafor “di luar” dan “di dalam” itu adalah sesuatu yang tidak tepat dan salah arah. Mengapa? Karena, tidak ada sesuatu di luar alam semesta karena tidak ada tempat di luar kontinuum ruang waktu alam semesta kita (Bdk. Worldwiew Saintifik). Allah adalah satu dengan alam semesta, hlm. 262. Ini bukan panteisme (tidak ada perbedaan antara Allah dan alam semesta) dan juga bukan panenteisme (Allah ada di dalam segala sesuatu, yang memberi kesan bahwa Allah adalah sejenis objek).  Allah tidak bisa dipikirkan sebagai sebuah objek dalam bentuk apa pun. Maka Allahdapat dirujuk atau dialami hanya sebagai subjek. Dalam hal ini, Allah adalah subjek atau diri alam semesta. Allah adalah alam semesta sebagai Pencipta. Di sini, yang imanen (“satu”) dan yang transenden (“subjek”) sekaligus hadir.

 

Kebangkitan Yesus

Keterbukaan total Yesus ke segala arah relasi, baik ke arah Allah, manusia dan alam, membuat Yesus sungguh-sungguh ilahi, manusiawi dan alami. Keterbukaan totalnya ini tidak ditunjukkan hanya pada masa hidupnya saja. Justru, berkat kebangkitan, keterbukaan itu menjadi semakin jelas.

Berinspirasi dari metafor, menurut saya, kebangkitan itu bukanlah hasil imajinasi gereja perdana. Makna metafor itu dapat bergerak dari kata ke benda (peristiwa dll.), tetapi juga dari benda (peristiwa dll.) ke kata. Kita bukanlah penguasa yang dapat menciptakan imajinasi sesuka hati terhadap sesuatu (benda dll.). Benda atau peristiwa itu bisa juga menggerakkan imajinasi dan mengarahkan pemikiran kita. Kalau makna itu hanya dari kata ke benda, maka kebangkitan itu hanyalah hasil imajinasi gereja perdana.

Ada kebangkitan. Dan itu betul-betul mentransfigurasi hidup Yesus dan mentransformasi hidup para pengikut Yesus. Fakta kebangkitan mendayagunakan cerita-cerita imajinatif para pengikut Yesus, bukan sebaliknya. Karena fakta inilah, ada kekuatan yang dahsyat yang membuat para pengikut Yesus ini berani mati dalam menyaksikan imannya. Tentu, berani mati yang kolektif ini bukanlah perkara berimajinasi saja, tetapi adanya fakta kebangkitan itu sendiri.

Kebangkitan itu sendiri adalah transfigurasi besar-besaran yang membebaskan Yesus dari segala keterbatasan fisik di dalam ruang dan waktu. Dalam kebangkitan, Yesus muncul sebagai “manusia” baru. Tubuh kebangkitannya bukan lagi batas, tetapi kehadiran kosmis total dan persekutuan dengan seluruh kenyataan (Boff, hlm. 201). Yesus yang bangkit merealisasi sampai batas maksimum keberadaannya dalam yang lain dan untuk yang lain. Pengosongan diri Yesus yang telah bangkit mencapai kesempurnaannya. Dengan demikian, inkarnasi (yang adalah persekutuan yang dalam dan kuat) tidak terjadi hanya dalam masa hidup Yesus dari Nazareth saja , tetapi juga dalam kebangkitan Yesus.

Kehadiran kosmis dari Yesus yang bangkit ini bukan sekedar menyatakan keluasaan-ruang-nya saja, tetapi juga keluasan-waktu-nya. Sebelum Yesus dari Nazareth ada, struktur ala Kristus sudah ada (Boff, hlm. 252). Atau, dalam bahasa Peter Hodgson, Christ-gestalt atau pola/paradigma Kristus itu sudah ada (Winds of the Spirit, hlm.250-255 ). Yesus dari Nazareth adalah Kristus, tetapi Kristus tidak hanya ada dalam Yesus dari Nazareth. Di dalam bahasa agama Kristen, paradigma Kristus ini adalah redemptive love (agape), sedangkan dalam bahasa agama Budha, itu adalah liberative knowledge (gnosis).

Baik agape maupun gnosis, keduanya berintikan keselamatan atau pembebasan. Dan transfigurasi yang besar-besaran itu sendiri adalah pembebasan (Choan-Seng Song, Yesus dan Pemerintahan Allah, hlm. 408). Kebangkitan itu adalah pembebasan. Dan sejarah yang bertitik-tolak dari kebangkitan adalah sejarah transfigurasi. Di sini, revolusi tidak dijalankan dengan kekerasan.

Fokus kebangkitan bukanlah ada orang mati lalu hidup kembali. Tetapi, fokus kebangkitan adalah hidupnya kekuatan praxis dari pola/paradigma Kristus ini, sebuah paradigma jalan nonviolence. Kebangkitan Yesus adalah kebangkitan dari jalan nonviolence. Itu lah jalan yang dibenarkan oleh Allah, jalan pemerintahan Allah. Itulah jalan alamiah yang didukung oleh kekuatan kreatif alam semesta ini.    View: 18

This post was written by

rudy phan – who has written posts on Berteologi.com.
Sejak pertobatan di kelas 1 SMA, saya sangat menyukai buku-buku teologi. Hal itu terus berlanjut di bangku kuliah. Perpustakaan adalah tempat paling favorit. Saya bisa datang lebih awal dan pulang tatkala perpustakaan mau tutup. Sekalipun di dahului oleh banyak masalah, akhirnya lulus juga dari fak teologi Universitas Kristen Duta Wacana thn 1999. Setelah lulus, saya tidak pernah mengirim ijazah ke gereja, sehingga saya sampai sekarang belum pernah melayani di gereja. Sekarang, sambil berbisnis, saya ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga, tulisan-tulisan yang ada di web ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Email  • Google + • Facebook  • Twitter

One thought on “Spiritualitas Kosmik dan Kebangkitan Yesus

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>