Agama di Asia sebagian besar bersifat nonteistis atau metateistis. Oleh karena itu, teologi sebagai pembicaraan-Allah (yang bersifat teistis) tidaklah menjadi titik tolak yang secara universal sah. Yang sah adalah soteriologi atau pembebasan, karena inilah inti dari semua pengalaman agama. Pengalaman akan keselamatan tidak lain adalah tercapainya kemanusiaan yang penuh yang memerdekakan hidup manusia. Di dalam kerangka acuan pembebasan, agama-agama di Asia memiliki titik temu dan pijakan bersama di dalam semangat penolakan terhadap Mamon atau dalam bahasa teistisnya berarti ketergantungan total kepada Allah.
Pergulatan antara Allah dan Mamon tidak pernah tak ada di Asia. Oleh karena itu, semangat penolakan terhadap Mamon adalah satu-satunya dasar untuk kerja sama antar-agama.
Musuh agama bukanlah sesama agama, tetapi Mamon yang juga adalah musuh Allah. Mamon bukanlah sekedar kekayaan, tetapi persekongkolan subversif antara kekuasaan (power) dan kekayaan. Kekayaan bukan hanya dalam arti harta benda materi dan uang, tetapi juga pengetahuan dan pendidikan, kelihaian politik, jabatan dan status sosial yang tinggi, dogma, ritus, hukum dan segala hal yang dijadikan alat mengakumulasi kekuasaan. Oleh karena itu, Mamon dapat memiliki banyak wajah, yaitu sebagai negara, modal atau gereja yang tiranik dan tidak manusiawi (dehumanis). Negara ateis dengan pemerintahan yang totalitarian, sistem antiteistis kapitalisme yang melanggengkan kemiskinan yang dipaksakan dan gereja yang meligitimasi kekuasaannya dengan “teori hak ilahi martabat gereja” adalah Mamon yang tiranik dan dehumanis.
Mamon bekerja pada dataran psikologi dan sosiologis. Pada dataran psikologis, ia merupakan kekuatan yang hampir-hampir tak terasa yang bekerja dalam diri kita, naluri keserakahan yang mendorong kita menjadi orang kaya yang bodoh yang ditertawakan Yesus (Luk.12:13-21). Pada dataran sosiologis, ia adalah kekuatan sosial raksasa yang mengasingkan kita tidak hanya dari Tuhan tetapi juga dari sesama dalam tatanan sosial atau komunitas yang dibangun berdasarkan koeksistensi pemborosan dan keinginan. Kekuasaan Mamon ini membius dengan lembut dan memperdaya akal budi sehingga akal budi menjadi gelap dan tidak dapat melihat realitas dehumanisasi Mamon. Kalau saat ini semakin banyak pejabat pemerintahan dan wakil rakyat di DPR yang dulunya aktivis pejuang melawan korupsi, kini menjadi koruptor, itu karena kekuatan Mamon sungguh tidak dapat dianggap enteng.
Di Asia, pembebasan manusia dari dehumanisasi Mamon selalu bersumber dari kehidupan spiritualitas. Spiritualitas mengandung analisa diri yang mampu menyingkirkan kepentingan-kepentingan egosentris yang menggelapkan akal budi dan akibatnya menyelewengkan pemahaman terhadap realitas. Spiritualitas ini memiliki daya kritik ideologi yang tajam, yang bekerja pada dataran psikologis maupun sosiologis. Strategi Mamon yang halus dan kuat pada dataran psikologis dan sosiologis akan dibongkar sehingga tampak wajah-wajah dehumanisasinya. Spiritualitas gnosis Buddha lebih menekankan pada analisa diri, sedangkan spiritualitas agape Kristen lebih menekankan pada analisa sosial. Analisis diri harus dilengkapi dengan analisis sosial. Dengan analisis diri, kita berjuang untuk menjadi miskin, sedangkan dengan analisis sosial kita berjuang demi kaum miskin. Cita-cita gnostis harus dilengkapi oleh keterlibatan agapeis, demikian juga sebaliknya. Simbiosis keduanya melahirkan spiritualitas yang sejati yang memberi daya revolusioner perjuangan demi pembebasan, suatu spiritualitas pembebasan.
Stoisisme membatasi pembebasan sebagai spiritual, peribadi dan batin. Manusia dilihat sebagai zoon koinonikon, makhluk dalam persatuan spiritual dengan seluruh umat manusia. Mereka tidak membayangkan perubahan radikal struktur sosial. Akibatnya dosa-dosa sosial lebih ditolerir. Rasul Paulus pun, dalam Galatia 3:28, menyampaikan cita-cita Kristiani dalam kategori stoik (manusia sebagai zoon koinonikon). Ketimpangan sosial tidak secara struktural disingkirkan bahkan di antara orang-orang yang bertobat menjadi Kristen. Teologi Roma Katolik mengkristenkan etika stoik ini dan memperlunak antagonisme sosial dalam masyarakat. Mereka membela perubahan struktur sosial yang jahat, tetapi dipandang sebagai hal kedua dan akibat dari pembebasan spiritual batin. Teologi Roma Katolik ini tampaknya sesuai dengan ajaran semua agama-agama metakosmis gnostis non-semitis Asia. Model manusia yang sudah dibebaskan (liberated persons), baik Roma Katolik maupun Timur non-Kristen, berhasil dalam menciptakan gambaran filsof dan orang bijak yang sejalan dengan gambaran orang miskin. Orang miskin yang menolak Mamon dan menolak dunia yang dibangun di atas nilai-nilai Mamon. Itu adalah hidup monastik yang diwahyukan di dalam semua agama. Berlawanan dengan pandangan di atas, pandangan kaum Marxis membatasi pembebasan pada perjuangan klas kaum miskin (proletariat) yang ditujukan demi keadilan sosio-ekonomis, mulai dengan kepemilikan bersama sarana-sarana produksi dan diharapkan berakhir dengan masyarakat tanpa klas dan negara.
Berbeda dengan semua pandangan di atas, pembebasan menurut Alkitab menyatukan ketiga aspek pembebasan itu, yaitu pribadi-sosial, spiritual-material dan batin-struktural. Di sini ada pewahyuan yang hanya ada di dalam agama Kristen (dan tidak ada atau kurang jelas di dalam semua agama non-semitis) dan secara mengejutkan benar di dalam konteks analisis Marxis, yaitu Allah membuat pakta pertahanan (perjanjian) dengan kaum miskin melawan Mamon, sehingga perjuangan kaum miskin demi pembebasan sejalan dengan tindakan penyelamatan Allah. Alkitab menegaskan akan peranan kaum miskin sebagi subjek pencipta sejarah. Kalau pernyataan itu sama dengan pemikiran Marx, tentu Alkitab tidak meminjam dari Marx. Tambah lagi, pembebasan dalam Alkitab lebih daripada perjuangan klas. Pembebasan merupakan perjumpaan kaum miskin dengan Allah. Pembebasan merupakan pengalaman religius kaum miskin (bangsa Israel). Kereligiusan kaum miskin menjadi leitmotif Alkitab. Alkitab mendukung pemahaman (insight) bahwa kereligiusan kaum miskin (Asia) yang sebagian besar non-Kristen dapat menjadi sumber pewahyuan yang baru (new source of revelation).
Spiritualitas pembebasan menyatupadukan antara spiritualitas, liturgi-sakramental dan keterlibatan sekular. Lihat Gambar dan penjelasannya di bawah ini.

Liturgi sakramental dan spiritualitas berakar pada liturgi kehidupan yaitu konteks pengalaman hidup sehari-hari yang menjadi akar pengalaman perjumpaan dengan Allah. Di sanalah, spiritualitas sejati dihayati dan di sana jugalah Misteri paskah Kristus terjadi dan kini diteruskan dalam hidup dan pergulatan, dalam kematian dan kemenangan para pengikutnya, yaitu dalam pergulatan sehari-hari mereka yang miskin dan tertindas. Baptis bukan melulu suatu ritus, tetapi lebih pada persatuan dengan Kristus, mati dan bangkit bersama Kristus dalam hidup setiap hari. Ekaristi merupakan ucapan syukur melalui tindakan berbagi dan pengorbanan-diri (self-sacrifice) bagi orang lain. Makan secara mewah, sementara orang lain kelaparan adalah melawan ekaristi dan “suatu dosa melawan tubuh Tuhan” (1 Kor. 11: 21, 27). Liturgi dan spiritualitas adalah momen-momen intensif pengorbanan-diri yang dihayati sesuai dengan injil.
Spiritualitas dan keterlibatan sekular, atau antara kontemplasi dan aksi, menyatu dalam pengingkaran-diri (self-abnegation). Spiritualitas sejati mengalir dari semangat pengingkaran-diri sebagaimana yang nyata dalam peristiwa Kristus yang disalib. Di salib, Kristus “mendamaikan” umat Tuhan dan Tuhan umat sehingga orang selalu dapat menyentuh Tuhan dalam umat manusia dan menyentuh umat manusia dalam Tuhan. Pieris mengatakan, “carilah Tuhan dalam pengingkaran-diri total maka anda akan menyentuh kedalaman manusia… libatkanlah diri anda kepada pemerdekaan manusia tanpa sedikit pun mencari-diri anda sudah mengalami Tuhan”. Pengalaman iman Abraham menunjukkan bahwa perjalanan menuju kepada Tuhan memuncak pada kerakyatan (pembentukan suatu bangsa), dan pengalaman iman Musa menunjukkan bahwa keterlibatan bagi rakyat berklimaks dalam pengalaman akan Tuhan.
Liturgi sakramental dan keterlibatan sekular teranyam dalam penekanan akan unsur manusiawi dalam spiritualitas. Tekanan diberikan pada kemanusiaan (humanity) Yesus historis, Tuhan-menjadi-sesama-kita. Yesus dengan daging dan darah, yang haus, lapar, telanjang, sakit, tak berumah, tanpa tempat tinggal untuk dilahirkan atau dikuburkan, Yesus yang menjadi ancaman bagi keamanan Herodes dan oleh karena itu diburu untuk dibunuh olehnya, Yesus yang dihujat di pengadilan, Yesus yang diikat di gedung pengadilan, Yesus disiksa oleh para serdadu, Yesus korban fanatisme iman dan oportunisme politik, dan Yesus yang ditolak banyak orang. Penglihatan yang benar tentang Yesus dalam dimensi manusiawi historisnya membuka mata kita untuk melihat pewahyuan dalam peristiwa manusiawi Yesus, sebagaimana yang ia nyatakan tatkala dibaptis. Seperti Yesus yang rendah hati tunduk pada pembaptisan Yohanes, biarlah gereja duduk pada kaki para guru Asia untuk belajar, sebagai gereja yang belajar (ecclesia discens). Setelah itu, sebagaimana Yesus mendapat autoritas setelah dibaptis, demikian juga gereja mendapat autoritas untuk mengajar, sebagai gereja yang mengajar (ecclesia docens) kaum miskinAsia yang kebanyakan bukan Kristen.
Spiritualitas Yesus adalah spiritualitas rakyat. Yesus sendiri adalah rakyat, rakyat yang menderita. Di dalam kehidupannya sehari-hari, Yesus berada bersama-sama dengan rakyat, bersama-sama dengan mereka yang disisihkan dan terbuang. Bukannya membuat benteng keterpisahan, Yesus justru sangat terbuka dan membangun “keluarga” dengan mereka yang dipandang orang-orang berdosa dan sampah masyarakat. Keluarga yang dibangun Yesus ini adalah keluarga yang melayani, yang disimbolkan dengan tindakan membasuh kaki murid-muridnya (Yoh 13). Sebuah simbol yang kini dilakukan juga oleh beberapa murid yang beragama Islam tatkala merayakan hari Ibu 22 Desember 2012 ini:

Keterbukaan Yesus kepada mereka yang menderita adalah wujud nyata keterbukaan dia kepada BAPA. Hubunga n Yesus begitu sangat dekat dan dalam. Sampai-sampai, dalam bahasa mitologis, Yohanes mengatakan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia/daging“. Dan Yesus sendiri mengatakan bahwa “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Ini bukan “satu” matematis, tetapi ini satu “mistik”-persekutuan. Persekutuan yang begitu kuat inilah yang membuat spiritualitas Yesus tidak pernah kering. Spiritualitas Yesus selalu penuh, layaknya sebuah baterai handphone, Yesus tidak perlu dicharge. Yesus tidak membutuhkan model ibadah seperti Kebaktian Kebangunan Rohani. Mengapa? Karena, spiritualitas Yesus selalu bangun, selalu bersinar layaknya matahari (Oleh karena itu, kita dapat memahami kata-kata Yesus, bahwa Ia adalah terang dunia). Pada titik ini, Yesus bukan sekedar tidak perlu dicharge, tetapi Ia juga menjadi penyataan Allah di dalam dunia ini.
Apa rahasia spiritualitas Yesus sehingga selalu dalam keadaan penuh bahkan melimpah mengalir untuk sesama? Rahasianya adalah pengingkaran-diri atau pengosongan-diri. Di dalam pengosongan dirinya ini terciptalah ruang yang begitu luas bagi kehadiran yang lain, entah itu Bapa atau rakyat. Simbol membasuh kaki juga berada di wilayah pengosongan diri ini. Menjadi hamba, melayani dengan rendah hati menjadi praxis nyata pengosongan dirinya.
Pengosongan diri yang total, membuat Yesus dapat menampung kepenuhan kehadiran Allah dan rakyat yang menderita. Nah, persekutuan yang dalam dan kepenuhan itulah yang membuat kita yang masih jauh dari kepenuhan itu, bingung harus menyebut siapakah Yesus itu sebenarnya. Ada yang berpandangan bahwa Yesus itu Allah, ada yang berpandangan Yesus itu adalah ciptaan Allah tertinggi, ada yang bilang Yesus itu manusia suci dengan banyak gelar seperti nabi, mesias dan lain-lain. Yang menjadi pokok permasalahannya adalah: kita ini tidak selevel dengan Yesus. Level kita berada jauh sekali dari Yesus. Oleh karena itu, daripada berperang dengan gelar-gelar itu (gelar-gelar yang mungkin tidak dibutuhkan oleh Yesus itu sendiri), lebih baik kita masuk-ikut dalam spiritualitas pengosongan dirinya.
Dan akhir kata, berteologi haruslah berakar pada spiritualitas pengosongan diri ini. Tanpa itu, kita tidak akan dapat seperti Aloysius Pieris, tunduk dan belajar dari guru-guru Asia. Dan tanpa spiritualitas itu, tidak ada teologi yang perlu ditulis.
Bagi umat kristiani, saya ingin mengucapkan: Selamat Natal 2012… Selamat mengikuti jalan Yesus. View: 25
.
2 thoughts on “Spiritualitas Pembebasan Yesus, Spiritualitas Tanpa Charger: Perspektif Teologi Pembebasan Asia II”