Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Spiritualitas Pembebasan Yesus, Spiritualitas Tanpa Charger: Perspektif Teologi Pembebasan Asia I

Dalam artikel ini dan beberapa artikel selanjutnya, kita akan banyak menggali pemikiran Aloysius Pieris, teolog pembebasan Sri Lanka. Dengan berpijak pada teologi pembebasan, maka dimensi pencerahan dari tradisi filsafat hermeneutik akan mandapat wujud “daging”nya. Dengan menggali kekuatan teologi pembebasan, kita akan terhindar dari kesenangan “bermasturbasi” teologis di kamar ghetto kita.

 

 TEOLOGI, SPIRITUALITAS dan METODE BERTEOLOGI

Dari perspektif teologi pembebasan, tugas teologi bukan sekedar refleksi untuk menjelaskan atau memahami dunia, tetapi lebih utama adalah usaha mengubah dunia. Tafsiran ada untuk praksis. Lingkaran hermeneutik teologi berawal dan berujung pada praksis pembebasan. Kita mengenal Yesus sang kebenaran dengan mengikuti Yesus Sang  jalan. Di sini, kebenaran teologi dan jalan spiritualitas menjadi satu. Tanpa spiritualitas, teologi akan terasa overacademic dan penuh spekulasi yang tidak penting. Dan tanpa teologi, spiritualitas bisa jatuh pada khayalan akan kesatuan dengan Allah.

Jalan spiritualitas yang ia tempuh adalah jalan salib, bukan jalan perkembangan progresif tetapi jalan transformasi besar-besaran demi pembebasan. Jalan salib mengubah struktur dosa yang menindas dengan cara yang revolusioner. Partisipasi dalam perjuangan kaum miskin yang tertindas (yang kebanyakan bukan Kristen) demi kemanusiaan penuh sungguh suatu komitmen mengikuti Yesus. Siapa yang berpartisipasi demikian, siap menghadapi konflik sosial dengan penguasa dunia. Mengubah dunia para penguasa-dunia adalah tindakan penuh bahaya. Tindakan yang hanya siap diterima oleh mereka yang sungguh-sungguh mengikut Yesus. Jika Yesus sang guru menjadi kurban-hakim penindasan (Mat 25: 31-46), maka murid juga harus menjadi kurban dari tatanan yang ada sekarang ini atau jika tidak, ia tidak berhak mengaku sebagai murid. Teologi selalu sebuah perjuangan demi pembebasan. “Teologi” dan “pembebasan” adalah sebuah sinonim dan istilah “teologi pembebasan” adalah sebuah tautologi. Teologi itu sah jika berasal, berkembang dan memuncak dalam praksis pembebasan.  Di Asia, pembebasan tidak ada tanpa agama atau lebih tepatnya tidak ada tanpa agama-agama non-Kristen. Demikian juga, teologi pembebasan tidak ada tanpa teologi agama-agama non-Kristen. Teologi pembebasan “rasa”Asia adalah teologi pembebasan agama-agama.

Teologi pembebasan agama-agama yang diartikulasikan Pieris sungguh-sungguh memiliki rasa (sense) Asia. Teologinya berbeda dengan teologi para penganjur dialog antaragama yang tidak punya keprihatinan radikal terhadap kemiskinan; berbeda dengan teologi pembebasan Amerika Latin yang terlalu Kristen sehingga mengabaikan kekuatan agama-agama bukan Kristen;  berbeda dengan teologi liberal Barat yang selalu bertitik tolak dan berkerangka acuan pada keunikan Kristus atau keunikan agama Kristen; berbeda dengan gereja-gereja Kristen di Asia yang begitu lambat menjalani proses inkulturasi menjadi gereja dari Asia; berbeda dengan rekan beriman dari agama-agama Timur yang  terlalu menekankan analisa diri dan kurang memberi tekanan pada analisa sosial berwawasan agape Kristen; berbeda dengan pandangan humanisme sekular yang melahirkan “pemujaan kemanusiaan”;  berbeda dengan kaum Marxis yang meremehkan kebutuhan untuk pertumbuhan spiritual personal; dan berbeda secara radikal dengan teologi fundamentalis-ekslusif yang begitu berambisi menobatkan orang-orang Asia ke dalam kekristenan. Teologi Pieris bukan sekedar ingin berbeda. Tetapi teologinya sungguh-sungguh berakar dari spiritualitas Asianya.

Selain itu, secara epistemologis, teologi Pieris berbeda karena ia berteologi dari tempat atau konteks dan dari perspektif yang berbeda, “where you stand, what you see”. Dari “mata siapa” kita berteologi sangat menentukan hasil pemikiran teologis kita. Pieris yang berteologi dalam konteks kemiskinan dan agama-agama Asia dan dari perspektif (kereligiusan kosmis) kaum miskin Asia menghasilkan teologi lokal Asiayang berbeda dengan teologi lokal produk Kristen Barat. “Mata Asia” akan melihat hampir semua hal dengan berbeda dari yang dilihat “mata Barat”.

Secara teologis, teologi Pieris berbeda karena dilandasi oleh keyakinan bahwa wahyu Allah tidak berhenti dalam sejarah Israel, karena Roh Allah dari dahulu hingga kini terus berbicara  kepada bangsa Asia. Bahasa Roh adalah bahasa pembebasan yang menemukan ungkapannya tidak hanya dalam agama-agama Semitis, tetapi juga dalam agama-agama Asia. Berasal dari Roh Allah yang universal ini, Pieris menyakini bahwa semua agama memiliki pengalaman inti yang membebaskan. Dengan “menemukan” wahyu dalam agama-agama non-Kristen, kita akan mendapatkan teologi yang sungguh-sungguh baru, yang siap ditemukan oleh mereka yang siap “menjual segalanya”.  Penemuan ini memberikan “mata baru” untuk memahami apa yang dikatakan Alkitab Kristen; dan hasil pemahaman ini sungguh-sungguh dimengerti oleh orang-orang Asia yang kebanyakan miskin dan beragama bukan Kristen. Sebagai contoh, 2 rumusan kristologi yang baru: 1) “Yesus adalah pertentangan tak terdamaikan antara Allah dan Mamon” dan 2) “Yesus adalah perjanjian yang tak terbatalkan antara Allah dan kaum miskin” adalah rumusan kristologi yang dimengerti oleh kaum miskin Asia. “Dimengerti” karena memang itulah “perumusan pengalaman Kristus dari kaum miskin Asia”. Kalau kebanyakan orang mengartikan teologi itu sebagai merancang-bangun suatu pemikiran, bagi Pieris teologi adalah penemuan, artinya menemukan teologi yang implisit sudah ada dalam konteks soteriologis kereligiusan kaum miskin Asia. Di sini, teologi Pieris adalah non-Christian theology, teologi dari perspektif agama bukan Kristen.

Dengan memahami teologi sebagai penemuan, kita menyadari bahwa teologi bukanlah sekedar hasil imajinasi proyektif manusia saja. Tetapi, ada wahyu-iman di sana. Allah sebagai Subjek yang berbicara dan SuaraNya terdengar dengan jelas baik di dalam agama-agama Asia (seperti agama Hindu dan Buddha), maupun di dalam agama -agama Semitis (seperti agama Islam dan Kristen).

Tidak ada umat jika tidak dipanggil Allah dan tidak ada Allah yang layak dibicarakan kecuali Allah yang berbicara lewat umat. Teologi bukanlah pembicaraan tentang Allah pada DiriNya sendiri, tetapi tentang Allah umat dan umat Allah. Bangkitnya “Dunia Ketiga”  adalah bangkitnya umat Allah yang miskin yang kebanyakan beragama bukan Kristen, bangkitnya “jalan ketiga” yang menjadi alternatif bagi jalan-jalan yang sudah ada. Di sini, teologi berbicara dengan dan lewat kaum miskin yang bukan Kristen.

Adapun metode berteologi  yang benar adalah diawali dengan partisipasi (di-“baptis ganda” ke dalam kenyataan ganda “kemiskinan dan agama” Asia)  dan kemudian eksplisitasi atau penyingkapan khristik atas perjuangan kaum miskin yang kebanyakan bukan Kristen demi pencapaian pembebasan yang menyeluruh. “Penyingkapan khristik” berarti penyingkapan berdasarkan pewahyuan dalam Yesus. “Partisipasi” atau inkulturasi (atau lebih tepatnya: en-religion-isasi)  dan “penyingkapan khristik” atau misi-pembebasan adalah dua nama untuk satu proses yang sama.

Penyingkapan terjadi tatkala kita mendengarkan Firman yang diwahyukan Roh Allah di dalam kereligiusan kaum miskin Asia. Di baptis ganda berarti masuk ke dalam communicatio in sacris  di mana “kawanan kecil domba Kristus” boleh merumput dengan bebas di padang rumput Asia. Menjalani baptis ganda sungguh merupakan tindakan yang revolusioner.   Pieris sendiri telah menjalani baptis ganda atau pertobatan ini. Di hadapan pemimpin agama Buddha, ia jatuh tak berdaya dan memohon agar ia diterima menjadi muridnya. Tindakan rendah hati  ini mengantarkan Pieris menjadi orang Kristen pertama yang bisa memperoleh gelar doktor dalam Filsafat Buddha.

Metode kerendahan hati partisipasi-penyingkapan khristik dapat menjembatani jurang antara filsafat dan agama yang di Barat seringkali dipisahkan. Di Barat, pemisahan antara agama dan filsafat, yang berakar pada pandangan negatif terhadap agama non-Kristen, menimbulkan dua penyakit tetap dalam tradisi akademis teologi Barat, yaitu: agama menjadi perkara otak semata yang dipelajari secara overacademic dan teknik apologetis memperalat agama non-Kristen melawan diri sendiri. Memperalat (instrumentalize) filsafat dan kebudayaan non-Kristen dengan memotong dari konteks religiusnya merupakan vandalisme teologis. Vandalisme teologis sering memakai kekuasaan kolonialis.

Sebagai seorang “Buddhis”, Pieris sungguh-sungguh mengenal apa yang namanya rasa Asia itu. Rasa Asia itu terletak pada agama dan filsafat yang saling campur tak terpisahkan. Di Asia, filsafat merupakan pandangan religius, dan agama merupakan filsafat yang dihayati. Antara kebenaran dan jalan, tujuan dan metode, teori dan praksis, pembicaraan-Allah (God-talk) dan pengalaman-Allah (God-experience), kata (keheningan yang terdengar) dan keheningan (kata yang tak terucapkan), metode analisa sosial dan analisa diri, agape dan gnosis tidak dapat dipisahkan. Harmoni antara agape dan gnosis menjadi batu uji autentistitas spiritualitas dan teologi Asia. Teologi pembebasan “rasa” Asia, yang dirumuskan Pieris, tidak lain adalah teologi harmoni di mana agape dan gnosis saling bersimbiosis, suatu teologi yang berakar dari pengalaman inti agama yang membebaskan.

Bersambung: SPIRITUALITAS PEMBEBASAN YESUS, SPIRITUALITAS TANPA CHARGER    View: 36

This post was written by

rudy phan – who has written posts on Berteologi.com.
Sejak pertobatan di kelas 1 SMA, saya sangat menyukai buku-buku teologi. Hal itu terus berlanjut di bangku kuliah. Perpustakaan adalah tempat paling favorit. Saya bisa datang lebih awal dan pulang tatkala perpustakaan mau tutup. Sekalipun di dahului oleh banyak masalah, akhirnya lulus juga dari fak teologi Universitas Kristen Duta Wacana thn 1999. Setelah lulus, saya tidak pernah mengirim ijazah ke gereja, sehingga saya sampai sekarang belum pernah melayani di gereja. Sekarang, sambil berbisnis, saya ingin menyempatkan waktu untuk menulis. Semoga, tulisan-tulisan yang ada di web ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Email  • Google + • Facebook  • Twitter

One thought on “Spiritualitas Pembebasan Yesus, Spiritualitas Tanpa Charger: Perspektif Teologi Pembebasan Asia I

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>