“Banjir” dalam judul artikel ini hanyalah wakil dari bencana alam dan kecelakaan-kecelakaan atau musibah-musibah yang dialami bangsa kita yang mendatangkan penderitaan yang begitu dalam. Penderitaan yang menyayat hati, yang membuat air mata menetes di mana-mana.
Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan kecuali diam atau menangis, meneriakkan jeritan hati yang paling dalam.
Di manakah Allah? Apakah Allah tidak peduli? Atau, Allah itu begitu impoten (tidak berdaya) sehingga tidak bisa menyentuh penderitaan saudara-saudara kita?
Atau, jangan-jangan, semua ini disebabkan oleh Allah sendiri? Apakah Allah melanggengkan kekerasan untuk mencapai tujuanNya? Atau tegasnya, apakah Allah memakai cara kekerasan untuk membasmi kekerasan manusiawi?
Artikel Read more [...]. Banjir yang Mengerikan itu Disebabkan oleh Allah? Renungan atas Kekerasan dan Kasih Allah
“Banjir” dalam judul artikel ini hanyalah wakil dari bencana alam dan kecelakaan-kecelakaan atau musibah-musibah yang dialami bangsa kita yang mendatangkan penderitaan yang begitu dalam. Penderitaan yang menyayat hati, yang membuat air mata menetes di mana-mana.
Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan kecuali diam atau menangis, meneriakkan jeritan hati yang paling dalam.
Di manakah Allah? Apakah Allah tidak peduli? Atau, Allah itu begitu impoten (tidak berdaya) sehingga tidak bisa menyentuh penderitaan saudara-saudara kita?
Atau, jangan-jangan, semua ini disebabkan oleh Allah sendiri? Apakah Allah melanggengkan kekerasan untuk mencapai tujuanNya? Atau tegasnya, apakah Allah memakai cara kekerasan untuk membasmi kekerasan manusiawi?
Artikel Read more [...].
Sebuah Interpretasi terhadap Kata-kata Yesus, "allah-Ku allah-Ku, mengapa
engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46)
Secara filosofis, kita tidak bisa mengenal Allah-pada-DiriNya. Yang kita kenal adalah Allah-sejauh-dipahami-rasio-manusia. Oleh karena sifat insufficient rasio manusia, maka lahirlah banyak pemahaman tentang Allah. "Allah dicipta" berdasar sistem berpikir atau logika kultural tempat ia berada.
Alkitab tidak menyaksikan kepada kita tentang hakikat Allah secara filosofis-murni (baca: ontologis saja). Alkitab lebih utama memberi kesaksian iman yang fungsional tentang Allah dalam hubungan-ketritunggalan-Nya (penyataan langsung) dan dalam hubungan dengan umat manusia dan ciptaanNya (penyataan tidak langsung) demi keselamatan manusia