Uraian sebelumnya, tentang konteks Asia dan pembebasan, membawa kita untuk lebih masuk pada masalah kontekstualisasi teologi. Paradigma metafor lahir karena filsafat pascamodern kembali pada lebenswelt, dunia kehidupan konkret sehari-hari dan yang pra-reflektif. Dari sana, kita bisa melihat bahwa filsafat, yang dalam status hipotesisnya, menunjukkan manfaatnya dalam hidup sehari-hari. Di sini, berfilsafat berarti berfilsafat dalam konteks. Kalau teologi juga ingin bermanfaat dalam hidup sehari-hari, maka teologi juga mesti berpijak pada lebenswelt. Sebagaimana dalam filsafat, berteologi berarti berteologi dalam konteks. Lebenswelt adalah tahap pertama yang primer. Refleksi rasional selalu merupakan tahap kedua. Menurut Gutierrez, pioner teologi Read more [...]. Teologi Pascamodern, Kontekstualisasi Teologi dan Lingkaran Hermeneutik II
Uraian sebelumnya, tentang konteks Asia dan pembebasan, membawa kita untuk lebih masuk pada masalah kontekstualisasi teologi. Paradigma metafor lahir karena filsafat pascamodern kembali pada lebenswelt, dunia kehidupan konkret sehari-hari dan yang pra-reflektif. Dari sana, kita bisa melihat bahwa filsafat, yang dalam status hipotesisnya, menunjukkan manfaatnya dalam hidup sehari-hari. Di sini, berfilsafat berarti berfilsafat dalam konteks. Kalau teologi juga ingin bermanfaat dalam hidup sehari-hari, maka teologi juga mesti berpijak pada lebenswelt. Sebagaimana dalam filsafat, berteologi berarti berteologi dalam konteks. Lebenswelt adalah tahap pertama yang primer. Refleksi rasional selalu merupakan tahap kedua. Menurut Gutierrez, pioner teologi Read more [...].
Menurut Sugiharto, batas bahasa itu tergantung pada bagaimana kita melihat bahasa. Dalam perspektif hermeneutik, manusia adalah suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Gadamer mengatakan: “Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”. Sifat linguistik manusia sama dengan sifat temporalitasnya. Dari perspektif Heidegger, “waktu” yang disadari dalam terang kematian bukanlah waktu biasa yang mengalir begitu saja di depan kita sehingga dapat kita abaikan. “Waktu” ini melibatkan totalitas eksistensi manusia, sehingga setiap detik begitu bermakna. Seperti orang yang mau meninggal dunia, kata-katanya adalah totalitas hidupnya. Bahasa bukanlah alat untuk hidup yang dapat digunakan atau tidak digunakan, tetapi bahasa