Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Teologi Pascamodern, Kontekstualisasi Teologi dan Lingkaran Hermeneutik II

Uraian sebelumnya, tentang konteks Asia dan pembebasan, membawa kita untuk lebih masuk pada masalah kontekstualisasi teologi. Paradigma metafor lahir karena filsafat pascamodern kembali pada lebenswelt, dunia kehidupan konkret sehari-hari dan yang pra-reflektif. Dari sana, kita bisa melihat bahwa filsafat, yang dalam status hipotesisnya, menunjukkan manfaatnya dalam hidup sehari-hari. Di sini, berfilsafat berarti berfilsafat dalam konteks. Kalau teologi juga ingin bermanfaat dalam hidup sehari-hari, maka teologi juga mesti berpijak pada lebenswelt. Sebagaimana dalam filsafat, berteologi berarti berteologi dalam konteks.  Lebenswelt adalah tahap pertama yang primer. Refleksi rasional selalu merupakan tahap kedua. Menurut Gutierrez, pioner teologi Read more [...]

Teologi Pascamodern, Kontekstualisasi Teologi dan Lingkaran Hermeneutik I

Secara etimologis, istilah “teologi” berasal dari dua kata Yunani yaitu “theos” dan “logos” yang artinya “bahasa atau pemikiran tentang Allah”. Arti etimologis ini masih kabur, oleh karena itu perlu kita refleksikan lebih jauh. Isi atau konten teologi bukanlah Allah-pada-diriNya sendiri tetapi Allah-dalam-relasi dengan dunia sejauh bisa dinyatakan dengan bahasa manusia. “Bahasa” di sini bukanlah sekedar “bahasa” murni hasil olah rasio manusia, tetapi “bahasa iman” dalam arti bahasa yang ditunjang, ditimbulkan dan didayagunakan oleh peristiwa pewahyuan Diri Allah. Bahasa iman dipahami sebagai “peristiwa linguistik”nya Gadamer atau “peristiwa Sabda”nya Ricoeur. Allah bukanlah realitas empiris yang bisa dijadikan Read more [...]

Oh My God! I Miss You II: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)

Menurut Sugiharto, batas bahasa itu tergantung pada bagaimana kita melihat bahasa. Dalam perspektif hermeneutik, manusia adalah suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Gadamer mengatakan: “Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”.  Sifat linguistik manusia sama dengan sifat temporalitasnya. Dari perspektif Heidegger, “waktu” yang disadari dalam terang kematian bukanlah waktu biasa yang mengalir begitu saja di depan kita sehingga dapat kita abaikan. “Waktu” ini melibatkan totalitas eksistensi manusia, sehingga setiap detik begitu bermakna. Seperti orang yang mau meninggal dunia, kata-katanya adalah totalitas hidupnya. Bahasa bukanlah alat untuk hidup yang dapat digunakan atau tidak digunakan, tetapi bahasa Read more [...]

Oh My God! I Miss You I: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)

Perjalanan manusia modern sungguh sangat berat. Di satu pihak, evolusi rasionya membawa ia pada kondisi "mencoret" Allah. Tetapi, di pihak lain, ada kerinduan yang mendalam terhadap Allah. Tetapi, manusia tidak bisa balik kembali ke keadaan semula. Ia terus berevolusi. Dan kini ia menjadi "putri duyung", ya, putri duyung yang mendamba sebuah spiritualitas yang berakar dalam dunia keilmiahannya. Mari kita lihat perjalanan sang putri duyung ini. Dalam modernisme, filsafat berpusat pada epistemologi. Epistemologi Descartes-Newton, Deisme, Kant dan positivisme, sebagaimana dijelaskan diatas, adalah epistemologi fondasionalisme dan representasionalisme. Epistemologi ini bersandar pada kesadaran diri atau rasio murni-ilmiah yang tertutup, antara Read more [...]