Perjalanan manusia modern sungguh sangat berat. Di satu pihak, evolusi rasionya membawa ia pada kondisi "mencoret" Allah. Tetapi, di pihak lain, ada kerinduan yang mendalam terhadap Allah. Tetapi, manusia tidak bisa balik kembali ke keadaan semula. Ia terus berevolusi. Dan kini ia menjadi "putri duyung", ya, putri duyung yang mendamba sebuah spiritualitas yang berakar dalam dunia keilmiahannya. Mari kita lihat perjalanan sang putri duyung ini.
Dalam modernisme, filsafat berpusat pada epistemologi. Epistemologi Descartes-Newton, Deisme, Kant dan positivisme, sebagaimana dijelaskan diatas, adalah epistemologi fondasionalisme dan representasionalisme. Epistemologi ini bersandar pada kesadaran diri atau rasio murni-ilmiah yang tertutup, antara Read more [...]. Oh My God! I Miss You I: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)
Perjalanan manusia modern sungguh sangat berat. Di satu pihak, evolusi rasionya membawa ia pada kondisi "mencoret" Allah. Tetapi, di pihak lain, ada kerinduan yang mendalam terhadap Allah. Tetapi, manusia tidak bisa balik kembali ke keadaan semula. Ia terus berevolusi. Dan kini ia menjadi "putri duyung", ya, putri duyung yang mendamba sebuah spiritualitas yang berakar dalam dunia keilmiahannya. Mari kita lihat perjalanan sang putri duyung ini.
Dalam modernisme, filsafat berpusat pada epistemologi. Epistemologi Descartes-Newton, Deisme, Kant dan positivisme, sebagaimana dijelaskan diatas, adalah epistemologi fondasionalisme dan representasionalisme. Epistemologi ini bersandar pada kesadaran diri atau rasio murni-ilmiah yang tertutup, antara Read more [...].
Pada suatu kali, saya mendengarkan kotbah. Tema kotbah kali itu adalah “iman dalam dunia pascamodern”. “Wah… bakalan seru nih kotbahnya”, demikian bisik dalam hati saya. Setelah menjalani beberapa item liturgi, akhirnya sampai juga pada item kotbah.
Setelah mendengarkan kotbah dari awal hingga akhir, saya jadi bengong sendiri. Dalam hati saya bertanya, “apa ngak salah dengar nih? Kok ngak ada rasa pascamodernnya?”. Setelah saya telusuri kotbahnya kembali, saya mengambil kesimpulan kalau pendeta itu tidak tahu apa yang dimaksud pascamodern; apa bedanya dengan yang modern dan apa juga bedanya dengan yang pramodern. [Tapi ngak kenapa, saya tetap senang karena saya mendengar kotbah lawakan. Judul dan isinya tidak nyambung.