Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Good Bye My God I: Modernisme Awal sebagai Rasio yang (akhirnya) “Mencoret” Allah

  Pada suatu kali, saya mendengarkan kotbah. Tema kotbah kali itu adalah “iman dalam dunia pascamodern”. “Wah… bakalan seru nih kotbahnya”, demikian bisik dalam hati saya. Setelah menjalani beberapa item liturgi, akhirnya sampai juga pada item kotbah. Setelah mendengarkan kotbah dari awal hingga akhir, saya jadi bengong sendiri. Dalam hati saya bertanya, “apa ngak salah dengar nih? Kok ngak ada rasa pascamodernnya?”. Setelah saya telusuri kotbahnya kembali, saya mengambil kesimpulan kalau pendeta itu tidak tahu apa yang dimaksud pascamodern; apa bedanya dengan yang modern dan apa juga bedanya dengan yang pramodern. [Tapi ngak kenapa, saya tetap senang karena saya mendengar kotbah lawakan. Judul dan isinya tidak nyambung. Read more [...]

Dancing with the Mobile God: Memahami Allah dalam Konteks Kemajemukan Agama dari Perspektif Paradigma Postmodernisme

Judul “the mobile God” bukanlah suatu bentuk kelatahan kontemporer masa kini yang serba mobile (layaknya: mobile phone, mobile computer, mobile internet dll.). “Mobile God” adalah sebuah pemahaman tentang Allah dalam konteks kemajemukan agama dilihat dari perspektif paradigma postmodernisme. Dengan demikian, diharapkan, kita bisa lebih berdaya dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Di sini, kita tidak membicarakan masalah rincian-rincian kecil. Tetapi, kita sedang membicarakan masalah gambaran besar; sebuah gambaran yang sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup ini. Betapa menentukannya gambaran besar ini, dapat dijelaskan dengan sebuah cerita sebagai berikut: “Saya berada di dalam bangunan yang aneh dan tersesat masuk Read more [...]