Menurut Sugiharto, batas bahasa itu tergantung pada bagaimana kita melihat bahasa. Dalam perspektif hermeneutik, manusia adalah suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Gadamer mengatakan: “Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”. Sifat linguistik manusia sama dengan sifat temporalitasnya. Dari perspektif Heidegger, “waktu” yang disadari dalam terang kematian bukanlah waktu biasa yang mengalir begitu saja di depan kita sehingga dapat kita abaikan. “Waktu” ini melibatkan totalitas eksistensi manusia, sehingga setiap detik begitu bermakna. Seperti orang yang mau meninggal dunia, kata-katanya adalah totalitas hidupnya. Bahasa bukanlah alat untuk hidup yang dapat digunakan atau tidak digunakan, tetapi bahasa Read more [...]. Oh My God! I Miss You II: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)
Menurut Sugiharto, batas bahasa itu tergantung pada bagaimana kita melihat bahasa. Dalam perspektif hermeneutik, manusia adalah suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Gadamer mengatakan: “Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”. Sifat linguistik manusia sama dengan sifat temporalitasnya. Dari perspektif Heidegger, “waktu” yang disadari dalam terang kematian bukanlah waktu biasa yang mengalir begitu saja di depan kita sehingga dapat kita abaikan. “Waktu” ini melibatkan totalitas eksistensi manusia, sehingga setiap detik begitu bermakna. Seperti orang yang mau meninggal dunia, kata-katanya adalah totalitas hidupnya. Bahasa bukanlah alat untuk hidup yang dapat digunakan atau tidak digunakan, tetapi bahasa Read more [...].