Teologi pascaKristen | Teologi pascaModern

Oh My God! I Miss You II: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)

Menurut Sugiharto, batas bahasa itu tergantung pada bagaimana kita melihat bahasa. Dalam perspektif hermeneutik, manusia adalah suatu produk kultural, yaitu suatu konstruk linguistik. Gadamer mengatakan: “Ada (Being) yang bisa dimengerti adalah bahasa”.  Sifat linguistik manusia sama dengan sifat temporalitasnya. Dari perspektif Heidegger, “waktu” yang disadari dalam terang kematian bukanlah waktu biasa yang mengalir begitu saja di depan kita sehingga dapat kita abaikan. “Waktu” ini melibatkan totalitas eksistensi manusia, sehingga setiap detik begitu bermakna. Seperti orang yang mau meninggal dunia, kata-katanya adalah totalitas hidupnya. Bahasa bukanlah alat untuk hidup yang dapat digunakan atau tidak digunakan, tetapi bahasa Read more [...]

Oh My God! I Miss You I: Modernisme Lanjut di mana Rasio “Menulis” Allah (kembali)

Perjalanan manusia modern sungguh sangat berat. Di satu pihak, evolusi rasionya membawa ia pada kondisi "mencoret" Allah. Tetapi, di pihak lain, ada kerinduan yang mendalam terhadap Allah. Tetapi, manusia tidak bisa balik kembali ke keadaan semula. Ia terus berevolusi. Dan kini ia menjadi "putri duyung", ya, putri duyung yang mendamba sebuah spiritualitas yang berakar dalam dunia keilmiahannya. Mari kita lihat perjalanan sang putri duyung ini. Dalam modernisme, filsafat berpusat pada epistemologi. Epistemologi Descartes-Newton, Deisme, Kant dan positivisme, sebagaimana dijelaskan diatas, adalah epistemologi fondasionalisme dan representasionalisme. Epistemologi ini bersandar pada kesadaran diri atau rasio murni-ilmiah yang tertutup, antara Read more [...]