Sewaktu di dalam kereta menuju Yogyakarta, seorang pemuda ngobrol dengan saya. Dalam obrolan itu, saya memperkenalkan diri dan (tatkala itu) sedang studi teologi. Tetapi, yang didengar pemuda ini adalah teknologi. Lalu, saya jelaskan apa itu teologi. Dari sini, saya melihat bahwa teologi tampaknya belum terkenal dalam dunia ensiklopedi keilmuan di Indonesia. Selain tidak mengenal apa itu teologi, ternyata pemuda itu juga tidak tahu bahwa ada sekolah teologi yang namanya Universitas Kristen DUTA Wacana (UKDW). Yang didengar pemuda itu adalah SATYA Wacana. Wah… sedih mendengarnya. Padahal, teologi UKDW itu menjadi yang pertama terakreditasi.
Dari pada bersedih ria, mungkin ini kesempatan yang tepat untuk menjelaskan secara sederhana, apa itu teologi. Kita mulai dari yang umum bahwa teologi itu ilmu iman.
1. Teologi itu Ilmu Iman
Teos artinya Allah dan Logos artinya ilmu. Jadi, teologi adalah ilmu tentang Allah. Disebut ilmu karena dalam teologi dipakai metode, sistematika dan koherensi sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Ilmu teologi sama dengan ilmu lainnya tatkala menganalisa pengalaman manusia di dalam kesadarannya akan Allah, tetapi ilmu teologi berbeda dengan ilmu lainnya karena pengetahuan teologi bersumber pada wahyu-iman. Di sini, iman menjadi apriori kategori yang menjadi horison pemaknaan pengalaman manusia sehari-hari menjadi pengalaman akan Allah. Allah adalah Dia Yang Tidak Dapat Diketahui. Tanpa wahyu Allah, tidak ada pengetahuan teologi.
Di dalam menganalisa pengalaman manusia, misalnya kemiskinan, teologi dapat bekerja sama dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu-ilmu sosial. Karena pengalaman manusia yang terpahami itu ada dalam bahasa, teologi juga bekerja sama dengan filsafat, khususnya dari tradisi hermeneutik. Melihat dimensi psikologis pengalaman manusia, teologi juga bekerja sama dengan psikologi. Sekalipun demikian, yang menjadi pokok adalah pengalaman manusia dalam relasi nya dengan Allah.
Teologi berbeda dengan ilmu lainnya karena penggerak pemikirannya adalah iman. Dengan demikian, kita tidak bisa mendasari teologi hanya dari hasil penemuan ilmu sejarah (sebagaimana studi Yesus Sejarah) dan meletakkan jatuh bangunnya teologi di tangan sejarawan. Tanpa iman, pembicaraan ilmiah tentang Yesus Sejarah akan terasa dipaksakan dan akhirnya jatuh pada banyak spekulasi dan tidak banyak gunanya.
2. Teologi itu Seni Komunikasi Iman
Teos artinya Allah dan Logos artinya bahasa. Jadi, teologi adalah bahasa tentang Allah. Ada penafsiran dan pesan yang dikomunikasikan dalam pengalaman manusia bersama Allah. Dalam paradigma metafor, fungsi bahasa adalah transformasi pemahaman. Benar atau tidaknya penafsiran dan pesan itu diletakkan pada peristiwa transformasi pemahaman yang membuka kemungkinan hidup lebih baik.
Bahasa tentang Allah bukanlah sembarang bahasa. Ini adalah bahasa khusus, yaitu bahasa iman. Realitas Allah bukanlah realitas empiris tetapi realitas iman. Karena iman berdimensi etis-praxis, maka transformasi tidak berhenti di wilayah pemahaman, tetapi juga di wilayah etis-praxis. Komunikasi iman terjadi baik di dalam perubahan pemahaman dan tindakan.
Sthepen B Bevans, dalam bukunya Model-model Teologi Kontekstual, mengakui bahwa Romo Mangunwijaya adalah salah satu contoh teolog yang bergerak di wilayah seni dan etis-praxis. Di kedua wilayah itu, Romo Mangun memperjuangkan transformasi tanpa kekerasan. Ini sungguh sebuah seni komunikasi iman yang kreatif. Hingga di titik ini, kita juga bisa mengatakan bahwa teologi itu adalah perjuangan iman.
3. Teologi itu Permainan Iman
Teos artinya Allah dan Logos artinya bahasa. Allah bukanlah objek, tetapi subjek teologi. Allah mengajak manusia bermain bersamaNya. Dan di sini, Allah muncul sebagai Permainan. Di dalam bahasa, atau permainan bahasa, yang menjadi subjek bukanlah pemain/manusia tetapi permainan itu sendiri. Ya, memang Allah yang adalah Permainan itu memang menjadi subjek teologi.
Inti bahasa adalah metafor. Bagaimana proses terjadinya metafor? Ketika kategori A (hewan) dikenakan pada kategori (B) manusia, ada interaksi yang saling mempengaruhi dan menciptakan makna baru. Ciptaan baru ini bukanlah hanya hasil proyeksi manusia saja. Ada daya yang mengalir dari “benda” pada interaksi kreatif tersebut. Jika dikenakan pada Allah, maka pada peristiwa pewahyuan, ada dampak yang mengejutkan yang mentransformasi manusia sehingga manusia tercerahkan dan dapat melihat kemungkinan-kemungkinan baru untuk hidup lebih baik.
Ide tentang Allah itu bukanlah hasil proyeksi manusia sebagaimana dikatakan oleh kaum ateis. Ide itu sungguh nyata ada karena adanya Realitas Allah itu sendiri. Ini lah pendekatan realis kritis. Dan dalam pendekatan ini, manusia tidak dapat sombong dan mengklaim bahwa dirinyalah pencipta segala sesuatu, termasuk menciptakan Allah. Permainan iman menumbuhkan manusia yang rendah hati dan juga sekaligus pemberani.
Kita pemberani bukan seperti Hitler atau para pembunuh lainnya. Kita menjadi pemberani tanpa harus menjadi dehumanis. Kita pemberani karena diberdayakan dalam Permainan Allah ini. Sebuah permainan tanpa kekerasan yang menumbuhkan humanisasi semakin utuh dan penuh. Pada titik ini, saya memahami bahwa teologi itu indah. Tidak perlu takut salah. Bermain saja. Bermain dengan sepenuh hati bersama Allah, layaknya kita anak kecil yang bermain bersama papi maminya.Biar wajah blepotan warna-warni, tampaknya Allah akan tertawa dan senang bermain bersama kita :)
Kalau kita memahami arti teologi di atas, maka sangat memprihatinkan kalau ada teologi seseorang yang berbeda sudah dianggap sesat. Dan kalau ada teologi seorang pendeta yang berbeda, kemudian dikeluarkan. Padahal, bisa jadi, bahwa teologi pendeta yang dikeluarkan itu lebih mengena dan fungsional dalam praxis hidup sehari-hari. Apakah gereja saat ini hanya mewarisi deposito doktrin-doktrim masa lalu dan takut untuk berteologi secara baru dan segar? Atau, sudah begitu kuatkah kekuasaan gereja itu? Beranikah gereja merayakan PERMAINAN iman ini? Merayakan YANG LAIN dan menyambut kehadiran yang lain-lain itu. Beranikah? View: 30
.